Arsip

Archive for the ‘religi’ Category

Kemenangan Bizantium

Agustus 26, 2010 Tinggalkan komentar

Penggalan berita lain yang disampaikan Al Qur’an tentang peristiwa masa depan ditemukan dalam ayat pertama Surat Ar Ruum, yang merujuk pada Kekaisaran Bizantium, wilayah timur Kekaisaran Romawi. Dalam ayat-ayat ini, disebutkan bahwa Kekaisaran Bizantium telah mengalami kekalahan besar, tetapi akan segera memperoleh kemenangan.

“Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang).” (Al Qur’an, 30:1-4)

Ayat-ayat ini diturunkan kira-kira pada tahun 620 Masehi, hampir tujuh tahun setelah kekalahan hebat Bizantium Kristen di tangan bangsa Persia, ketika Bizantium kehilangan Yerusalem. Kemudian diriwayatkan dalam ayat ini bahwa Bizantium dalam waktu dekat menang. Padahal, Bizantium waktu itu telah menderita kekalahan sedemikian hebat hingga nampaknya mustahil baginya untuk mempertahankan keberadaannya sekalipun, apalagi merebut kemenangan kembali. Tidak hanya bangsa Persia, tapi juga bangsa Avar, Slavia, dan Lombard menjadi ancaman serius bagi Kekaisaran Bizantium. Bangsa Avar telah datang hingga mencapai dinding batas Konstantinopel. Kaisar Bizantium, Heraklius, telah memerintahkan agar emas dan perak yang ada di dalam gereja dilebur dan dijadikan uang untuk membiayai pasukan perang. Banyak gubernur memberontak melawan Kaisar Heraklius dan dan Kekaisaran tersebut berada pada titik keruntuhan. Mesopotamia, Cilicia, Syria, Palestina, Mesir dan Armenia, yang semula dikuasai oleh Bizantium, diserbu oleh bangsa Persia. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.)

Pendek kata, setiap orang menyangka Kekaisaran Bizantium akan runtuh. Tetapi tepat di saat seperti itu, ayat pertama Surat Ar Ruum diturunkan dan mengumumkan bahwa Bizantium akan mendapatkan kemenangan dalam beberapa+tahun lagi. Kemenangan ini tampak sedemikian mustahil sehingga kaum musyrikin Arab menjadikan ayat ini sebagai bahan cemoohan. Mereka berkeyakinan bahwa kemenangan yang diberitakan Al Qur’an takkan pernah menjadi kenyataan.

Sekitar tujuh tahun setelah diturunkannya ayat pertama Surat Ar Ruum tersebut, pada Desember 627 Masehi, perang penentu antara Kekaisaran Bizantium dan Persia terjadi di Nineveh. Dan kali ini, pasukan Bizantium secara mengejutkan mengalahkan pasukan Persia. Beberapa bulan kemudian, bangsa Persia harus membuat perjanjian dengan Bizantium, yang mewajibkan mereka untuk mengembalikan wilayah yang mereka ambil dari Bizantium. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.)

Akhirnya, “kemenangan bangsa Romawi” yang diumumkan oleh Allah dalam Al Qur’an, secara ajaib menjadi kenyataan.

Keajaiban lain yang diungkapkan dalam ayat ini adalah pengumuman tentang fakta geografis yang tak dapat ditemukan oleh seorangpun di masa itu.

Dalam ayat ketiga Surat Ar Ruum, diberitakan bahwa Romawi telah dikalahkan di daerah paling rendah di bumi ini. Ungkapan “Adnal Ardli” dalam bahasa Arab, diartikan sebagai “tempat yang dekat” dalam banyak terjemahan. Namun ini bukanlah makna harfiah dari kalimat tersebut, tetapi lebih berupa penafsiran atasnya. Kata “Adna” dalam bahasa Arab diambil dari kata “Dani”, yang berarti “rendah” dan “Ardl” yang berarti “bumi”. Karena itu, ungkapan “Adnal Ardli” berarti “tempat paling rendah di bumi”.

Yang paling menarik, tahap-tahap penting dalam peperangan antara Kekaisaran Bizantium dan Persia, ketika Bizantium dikalahkan dan kehilangan Jerusalem, benar-benar terjadi di titik paling rendah di bumi. Wilayah yang dimaksudkan ini adalah cekungan Laut Mati, yang terletak di titik pertemuan wilayah yang dimiliki oleh Syria, Palestina, dan Jordania. “Laut Mati”, terletak 395 meter di bawah permukaan laut, adalah daerah paling rendah di bumi.

Ini berarti bahwa Bizantium dikalahkan di bagian paling rendah di bumi, persis seperti dikemukakan dalam ayat ini.

Hal paling menarik dalam fakta ini adalah bahwa ketinggian Laut Mati hanya mampu diukur dengan teknik pengukuran modern. Sebelumnya, mustahil bagi siapapun untuk mengetahui bahwasannya ini adalah wilayah terendah di permukaan bumi. Namun, dalam Al Qur’an, daerah ini dinyatakan sebagai titik paling rendah di atas bumi. Demikianlah, ini memberikan bukti lagi bahwa Al Qur’an adalah wahyu Ilahi

Kategori:religi

atmosfer

Agustus 25, 2010 Tinggalkan komentar

Gambar ini memperlihatkan sejumlah meteor yang hendak menumbuk bumi. Benda-benda langit yang berlalu lalang di ruang angkasa dapat menjadi ancaman serius bagi Bumi. Tapi Allah, Pencipta Maha Sempurna, telah menjadikan atmosfir sebagai atap yang melindungi bumi. Berkat pelindung istimewa ini, kebanyakan meteorid tidak mampu menghantam bumi karena terlanjur hancur berkeping-keping ketika masih berada di atmosfir.

Dalam Al Qur’an, Allah mengarahkan perhatian kita kepada sifat yang sangat menarik tentang langit:

“Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang ada padanya.” (Al Qur’an, 21:32)

Sifat langit ini telah dibuktikan oleh penelitian ilmiah abad ke-20.

Atmosfir yang melingkupi bumi berperan sangat penting bagi berlangsungnya kehidupan. Dengan menghancurkan sejumlah meteor, besar ataupun kecil ketika mereka mendekati bumi, atmosfir mencegah mereka jatuh ke bumi dan membahayakan makhluk hidup.

Atmosfir juga menyaring sinar-sinar dari ruang angkasa yang membahayakan kehidupan. Menariknya, atmosfir hanya membiarkan agar ditembus oleh sinar-sinar tak berbahaya dan berguna, – seperti cahaya tampak, sinar ultraviolet tepi, dan gelombang radio. Semua radiasi ini sangat diperlukan bagi kehidupan. Sinar ultraviolet tepi, yang hanya sebagiannya menembus atmosfir, sangat penting bagi fotosintesis tanaman dan bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup. Sebagian besar sinar ultraviolet kuat yang dipancarkan matahari ditahan oleh lapisan ozon atmosfir dan hanya sebagian kecil dan penting saja dari spektrum ultraviolet yang mencapai bumi.

Kebanyakan manusia yang memandang ke arah langit tidak pernah berpikir tentang fungsi atmosfir sebagai pelindung. Hampir tak pernah terlintas dalam benak mereka tentang apa jadinya bumi ini jika atmosfir tidak ada. Foto di atas adalah kawah raksasa yang terbentuk akibat hantaman sebuah meteor yang jatuh di Arizona, Amerika Serikat. Jika atmosfir tidak ada, jutaan meteorid akan jatuh ke Bumi, sehingga menjadikannya tempat yang tak dapat dihuni. Namun, fungsi pelindung dari atmosfir memungkinkan makhluk hidup untuk melangsungkan kehidupannya dengan aman. Ini sudah pasti perlindungan yang Allah berikan bagi manusia, dan sebuah keajaiban yang dinyatakan dalam Al Qur’an.

Fungsi pelindung dari atmosfir tidak berhenti sampai di sini. Atmosfir juga melindungi bumi dari suhu dingin membeku ruang angkasa, yang mencapai sekitar 270 derajat celcius di bawah nol.

Tidak hanya atmosfir yang melindungi bumi dari pengaruh berbahaya. Selain atmosfir, Sabuk Van Allen, suatu lapisan yang tercipta akibat keberadaan medan magnet bumi, juga berperan sebagai perisai melawan radiasi berbahaya yang mengancam planet kita. Radiasi ini, yang terus- menerus dipancarkan oleh matahari dan bintang-bintang lainnya, sangat mematikan bagi makhuk hidup. Jika saja sabuk Van Allen tidak ada, semburan energi raksasa yang disebut jilatan api matahari yang terjadi berkali-berkali pada matahari akan menghancurkan seluruh kehidupan di muka bumi.

Dr. Hugh Ross berkata tentang perang penting Sabuk Van Allen bagi kehidupan kita:

Bumi ternyata memiliki kerapatan terbesar di antara planet-planet lain di tata surya kita. Inti bumi yang terdiri atas unsur nikel dan besi inilah yang menyebabkan keberadaan medan magnetnya yang besar. Medan magnet ini membentuk lapisan pelindung berupa radiasi Van-Allen, yang melindungi Bumi dari pancaran radiasi dari luar angkasa. Jika lapisan pelindung ini tidak ada, maka kehidupan takkan mungkin dapat berlangsung di Bumi. Satu-satunya planet berbatu lain yang berkemungkinan memiliki medan magnet adalah Merkurius – tapi kekuatan medan magnet planet ini 100 kali lebih kecil dari Bumi. Bahkan Venus, planet kembar kita, tidak memiliki medan magnet. Lapisan pelindung Van-Allen ini merupakan sebuah rancangan istimewa yang hanya ada pada Bumi. (http://www.jps.net/bygrace/index. html Taken from Big Bang Refined by Fire by Dr. Hugh Ross, 1998. Reasons To Believe, Pasadena, CA.)

Energi yang dipancarkan dalam satu jilatan api saja, sebagaimana tercatat baru-baru ini, terhitung setara dengan 100 milyar bom atom yang serupa dengan yang dijatuhkan di Hiroshima. Lima puluh delapan jam setelah kilatan tersebut, teramati bahwa jarum magnetik kompas bergerak tidak seperti biasanya, dan 250 kilometer di atas atmosfir bumi terjadi peningkatan suhu tiba-tiba hingga mencapai 2.500 derajat celcius.

Singkatnya, sebuah sistem sempurna sedang bekerja jauh tinggi di atas bumi. Ia melingkupi bumi kita dan melindunginya dari berbagai ancaman dari luar angkasa. Para ilmuwan baru mengetahuinya sekarang, sementara berabad-abad lampau, kita telah diberitahu dalam Al Qur’an tentang atmosfir bumi yang berfungsi sebagai lapisan pelindung.

Energi yang dipancarkan oleh sebuah letusan pada Matahari sungguh amat dahsyat sehingga sulit dibayangkan akal manusia: Letusan tunggal pada matahari setara dengan ledakan 100 juta bom atom yang pernah dijatuhkan di Hiroshima. Bumi terlindungi dari pengaruh merusak akibat pancaran energi ini.

Kategori:religi, sains

pembebasan mekah part 3

Agustus 24, 2010 Tinggalkan komentar

Tetapi Muhammad, tetapi Nabi, tetapi Rasulullah, bukanlah
manusia yang mengenal permusuhan, atau yang akan membangkitkan
permusuhan di kalangan umat manusia! Dia bukan seorang tiran,
bukan mau menunjukkan sebagai orang yang berkuasa. Tuhan telah
memberi keringanan kepadanya dalam menghadapi musuh, dan dalam
kemampuannya itu ia memberi pengampunan. Dengan itu, kepada
seluruh dunia dan semua generasi ia telah memberi teladan
tentang kebaikan dan keteguhan menepati janji, tentang
kebebasan jiwa yang belum pernah dicapai oleh siapa pun!

Apabila Muhammad kemudian memasuki Ka’bah, dilihatnya
dinding-dinding Ka’bah sudah penuh dilukis dengan
gambar-gambar malaikat dan para nabi. Dilihatnya lbrahim yang
dilukiskan sedang memegang azlam6 yang diperundikan,
dilihatnya sebuah patung burung dara dari kayu. Dihancurkannya
patung itu dengan tangannya sendiri dan dicampakkannya ke
tanah. Ketika melihat gambar Ibrahim agak lama Muhammad
memandangnya, lalu katanya: Mudah-mudahan Tuhan membinasakan
mereka! Orang tua kita digambarkan mengundi dengan azlam! Apa
hubungannya Ibrahim dengan azlam’? Ibrahim bukan orang Yahudi,
juga bukan orang Nasrani. Tetapi ia adalah seorang hanif (yang
murni imannya), yang menyerahkan diri kepada Allah dan bukan
termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Sedang
malaikat-malaikat yang dilukiskan sebagai wanita-wanita
cantik, gambar-gambar itu oleh Muhammad disangkal samasekali,
sebab malaikat-malaikat itu bukan laki-laki dan bukan
perempuan. Lalu diperintahkannya supaya gambar-gambar itu
dihancurkan. Berhala-berhala sekeliling Ka’bah yang disembah
oleh Quraisy selain Allah, telah dilekatkan dengan timah di
sekeliling Ka’bah. Demikian juga berhala Hubal yang berada
didalamnya. Dengan tongkat di tangan Muhammad menunjuk kepada
berhala-berhala itu semua seraya berkata:

“Dan katakanlah : yang benar itu sudah datang, dan yang palsu
segera menghilang; sebab kepalsuan itu pasti akan lenyap.”
(Qur’an, 17: 81)

Berhala-berhala itu kemudian disungkurkan dan dengan demikian
Rumah Suci itu dapat dibersihkan. Pada hari pertama
dibebaskannya mereka itu, Muhammad telah dapat menyelesaikan
apa yang dianjurkannya sejak duapuluh tahun itu, dan yang
telah ditentang oleh Mekah dengan mati-matian. Dihancurkannya
berhala-berhala dan dihapuskannya paganisma dalam Rumah Suci
itu disaksikan oleh Quraisy sendiri. Mereka melihat
berhala-berhala yang mereka sembah dan disembah oleh
nenek-moyang mereka itu samasekali tidak dapat memberi
kebaikan atau bahaya buat mereka sendiri.

Pihak Anshar dari Medinah telah menyaksikan semua kejadian
itu. Mereka melihat Muhammad yang berdoa di atas gunung Shafa.
Terbayang oleh mereka sekarang bahwa ia pasti akan
meninggalkan Medinah dan kembali ke tempat tumpah darahnya
semula yang kini telah dibukakan Tuhan. Mereka berkata satu
sama lain: “Menurut pendapat kamu, adakah Rasulullah s.a.w.
akan menetap di negerinya sendiri?” Mungkin kekuatiran mereka
itu beralasan sekali. Ini adalah Rasulullah, dan di Mekah ini
Rumah Suci Baitullah dan di Mekah ini pula Mesjid Suci.

Tetapi setelah selesai berdoa Muhammad bertanya kepada mereka:
Apa yang mereka katakan itu. Setelah diketahuinya akan
kekuatiran mereka yang mereka sampaikan dengan agak maju
mundur itu, ia berkata: “Berlindunglah kita kepada Allah!
Hidup dan matiku akan bersama kamu.” Dengan itu ia telah
memberikan teladan kepada orang tentang keteguhannya memegang
janji pada Ikrar ‘Aqaba serta kesetiannya kepada
sahabat-sahabatnya yang seiring sepenanggungan di kala
menderita, teladan yang takkan dapat dilupakan, baik oleh
tanah air, oleh penduduk atau pun oleh Mekah sebagai Tanah
Suci.

***

Setelah berhala-berhala itu dibersihkan dari Ka’bah, Nabi
menyuruh Bilal menyerukan azan dari atas Ka’bah. Sesudah itu
orang melakukan sembahyang bersama dan Muhammad sebagai imam.
Sejak saat itu, sampai masa kita sekarang ini, selama
empatbelas abad, tiada pernah terputus Bilal dan
pengganti-pengganti Bilal terus menyerukan azan, lima kali
setiap hari, dari atas mesjid Mekah. Sejak saat itu, selama
empatbelas abad sudah, kaum Muslimin menunaikan kewajiban
salat kepada Allah dan selawat kepada Rasul, dengan
menghadapkan wajah, kalbu dan seluruh pikiran kepada Allah
semata, dengan menghadap Rumah Suci ini, yang pada hari
pembebasannya itu oleh Muhammad telah dibersihkan dari
patung-patung dan berhala-berhala.

Atas apa yang telah terjadi itu baru sekarang Quraisy mau
menerima, dan mereka pun sudah yakin pula akan pengampunan
yang telah diberikan Muhammad kepada mereka. Mereka melihat
Muhammad dan Muslimin yang ada di sekitarnya sekarang dengan
mata penuh takjub bercampur cemas dan hati-hati sekali. Namun
sungguhpun begitu ada sekelompok manusia terdiri dari
tujuhbelas orang, oleh Muhammad telah dikecualikan dari
pengampunannya itu. Sejak ia memasuki Mekah, sudah dikeluarkan
perintah supaya mereka itu, golongan laki-lakinya dibunuh,
meskipun mereka sudah berlindung ke tirai Ka’bah. Diantara
mereka itu ada yang bersembunyi dan ada pula yang sudah lari.
Keputusan Muhammad supaya mereka dibunuh bukan didorong oleh
rasa dengki atau karena marah kepada mereka, melainkan karena
kejahatan-kejahatan besar yang mereka lakukan. Ia tidak pernah
mengenal rasa dengki. Diantara mereka itu terdapat Abdullah b.
Abi’s-Sarh, orang yang dulu sudah masuk Islam dan menuliskan
wahyu, kemudian berbalik murtad menjadi musyrik di pihak
Quraisy dengan menggembor-gemborkan bahwa dia telah memalsukan
wahyu itu waktu ia menuliskannya. Juga Abdullah b. Khatal,
yang dulu sudah masuk Islam kemudian sesudah ia membunuh salah
seorang bekas budak ia berbalik menjadi musyrik dan menyuruh
kedua budaknya yang perempuan – Fartana dan temannya –
menyanyi-nyanyi mengejek Muhammad. Dia dan kedua orang itu
juga dijatuhi hukuman mati. Di samping itu ‘Ikrimah b. Abi
Jahl, orang yang paling keras memusuhi Muhammad dan kaum
Muslimin dan sampai waktu Khalid bin’l-Walid datang memasuki
Mekah dari jurusan bawah itu pun tiada henti-hentinya ia
mengadakan permusuhan.

Sesudah memasuki Mekah pun Muhammad sudah mengeluarkan
perintah jangan sampai ada pertumpahan darah dan jangan ada
seorang pun yang dibunuh, kecuali kelompok itu saja. Oleh
karena itu, mereka suami isteri lalu menyembunyikan diri, ada
pula yang lari. Tetapi setelah keadaan kembali aman dan
tenteram, dan orang melihat betapa Rasulullah berlapang dada
dan memberikan pengampunan yang begitu besar kepada mereka,
ada beberapa orang sahabat yang minta supaya mereka yang sudah
dijatuhi hukuman mati itu juga diberi pengampunan. Usman bin
‘Affan – yang masih saudara susuan dengan Abdullah b.
Abi’s-Sarh – juga datang kepada Nabi, memintakan jaminan
pengampunan. Seketika lamanya Nabi diam. Kemudian katanya:
“Ya” Dan dia pun diampuni. Sedang Umm Hakim (bint’l-Harith b.
Hisyam) telah pula memintakan kepada Muhammad jaminan
pengampuhan buat suaminya, ‘Ikrima b. Abi Jahl yang telah lari
ke Yaman. Dia ini pun diampuni. Wanita itu kemudian pergi
menyusul suaminya dan dibawanya kembali menghadap Nabi.
Demikian juga Muhammad telah memaafkan Shafwan b. Umayya,
orang yang telah menemani ‘Ikrima lari ke jurusan laut dengan
tujuan hendak ke Yaman. Kedua orang itu dibawa kembali tatkala
perahu yang hendak membawa mereka sudah siap akan berangkat.
Juga Hindun, isteri Abu Sufyan, yang telah mengunyah hati
Hamzah – paman Rasul sesudah gugur dalam perang Uhud – telah
dimaafkan, disamping orang-orang lain yang tadinya sudah
dihukum mati, semuanya dimaafkan. Yang dibunuh hanya empat,
yaitu Huwairith yang telah menggangu Zainab puteri Nabi
sepulangnya dari Mekah ke Medinah, serta dua orang yang sudah
masuk Islam lalu melakukan kejahatan dengan mengadakan
pembunuhan di Medinah dan kemudian melarikan diri ke Mekah
berbalik meninggalkan agamanya menjadi musyrik dan dua orang
budak perempuan Ibn Khatal, yang selalu mengganggu Nabi dengan
nyanyian-nyanyiannya. Yang seorang dari mereka ini lari, dan
yang seorang lagi diberi pengampunan.

Keesokan harinya setelah hari pembebasan itu ada seseorang
dari pihak Hudhail yang masih musyrik oleh Khuza’a dibunuh.
Nabi marah sekali karena perbuatan itu, dan dalam khotbahnya
di hadapan orang banyak ia berkata:

“Wahai manusia sekalian! Allah telah menjadikan Mekah ini
tanah suci sejak Ia menciptakan langit dan bumi. Ia suci sejak
pertama, kedua dan ketiga, sampai hari kiamat. Oleh karena
itu, orang yang beriman kepada Allah dan kepada Hari Kemudian
tidak dibenarkan mengadakan pertumpahan darah atau menebang
pohon di tempat ini. Tidak dibenarkan kepada siapa pun sebelum
aku, dan tidak dibenarkan kepada siapa pun sesudah aku ini.
Juga aku pun tidak dibenarkan marah kepada penghuni daerah ini
hanya untuk saat ini saja, kemudian ia kembali dihormati
seperti sebelum itu. Hendaklah kamu yang hadir ini
memberitahukan kepada yang tidak hadir. Kalau ada orang yang
mengatakan kepadamu bahwa Rasulullah telah berperang di tempat
ini, katakanlah bahwa Allah telah membolehkan hal itu kepada
RasulNya, tapi tidak kepada kamu sekalian, wahai orang-orang
Khuza’a! Lepaskanlah tangan kamu dari pembunuhan, sebab sudah
terlalu banyak; itu pun kalau ada gunanya. Kalau kamu sudah
membunuh orang, tentu aku juga yang akan menebusnya.
Barangsiapa ada yang dibunuh sesudah ucapanku ini; maka
keluarganya dapat memilih satu dari dua pertimbangan ini:
kalau mereka mau, dapat menuntut darah pembunuhnya; atau
dengan jalan diat.”

Sesudah itu kemudian ia mendiat (memampas) keluarga orang yang
dibunuh oleh Khuza’a itu. Dengan khotbah itu serta sikapnya
yang begitu lapang dada dan suka memaafkan, hati penduduk
telah begitu tertarik kepada Muhammad yang tadinya di luar
dugaan mereka. Dengan demikian pula orang telah beramai-ramai
masuk Islam.

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Kemudian setiap
berhala dalam rumahnya hendaknya dihancurkan,” demikian
kemudian suara orang menyerukan.

Kemudian dikirimnya serombongan orang dari Khuza’a untuk
memperbaiki tiang-tiang sekitar Tanah Suci itu, suatu hal yang
menunjukkan betapa besar penduduk Mekah itu menghormati tempat
ini, dan yang menambah pula kecintaan mereka kepadanya.
Setelah diberitahukan bahwa mereka adalah masyarakat yang
patut dicintai dan bahwa ia tidak akan membiarkan atau
meninggalkan mereka, kalau tidak karena mereka yang
mengusirnya, kecintaan mereka terasa makin besar kepadanya.

Ketika itu Abu Bakr datang membawa ayahnya – yang dulu pernah
mendaki gunung Abu Qubais waktu ada pasukan berkuda – ke
hadapan Nabi. Melihat orang itu Muhammad berkata:

“Kenapa orang tua ini tidak tinggal saja di rumah; biar saya
yang datang kesana.”

“Rasulullah,” kata Abu Bakr, “sudah pada tempatnya dia yang
datang kepadamu daripada engkau yang mendatanginya.”

Orang tua itu oleh Nabi dipersilakan duduk dan dielus-elusnya
dadanya; kemudian katanya:

“Sudilah menerima Islam.”

Kemudian ia pun menyatakan diri masuk Islam dan menjadi orang
Islam yang baik. Akhlak Nabi yang tinggi dan cemerlang inilah
yang banyak menawan hati bangsa itu. Bangsa yang tadinya
begitu keras melawan Muhammad, sekarang mereka sangat
mencintai dan menghormatinya. Kini orang-orang Quraisy itu,
laki-laki dan perempuan, sudah menerima Islam dan sudah pula
memberikan ikrarnya.

Limabelas hari Muhammad tinggal di Mekah. Selama itu pula
keadaan Mekah dibangunnya dan penduduk diajarnya mendalami
hukum agama. Dan selama itu pula regu-regu dakwah dikirimkan
untuk mengajarkan Islam, bukan untuk berperang, dan untuk
menghancurkan berhala-berhala tanpa pertumpahan darah. Khalid
bin’l-Walid waktu itu sudah berangkat ke Nakhla untuk
menghancurkan ‘Uzza – berhala Banu Syaiban. Tetapi setelah
berhala itu dihancurkan dan Khalid berada di Jadhima, begitu
mereka melihatnya, mereka pun segera mengangkat senjata. Oleh
Khalid mereka diminta supaya meletakkan senjata, orang semua
sudah masuk Islam. Salah seorang dari Banu Jadhima berkata
kepada golongannya: “Hai Banu Jadhima! Celaka kamu! Itu
Khalid. Sesudah perletakan senjata tentu kita ditawan dan
sesudah penawanan potong leher.”

Tetapi golongannya itu menjawab:

“Maksudmu kita akan menumpahkan darah kita? Orang semua sudah
masuk Islam, perang sudah tidak ada, orang sudah aman.”

Sesudah itu terjadi perletakan senjata. Ketika itulah dengan
perintah Khalid mereka dibelenggu, kemudian dibawai pedang dan
sebagian mereka ada yang dibunuh.

Apabila kemudian berita itu sampai kepada Nabi ia mengangkat
tangan ke langit seraya berdoa:

“Allahumma ya Allah! Aku bermohon kepadaMu lepas tangan dari
apa yang telah diperbuat oleh Khalid bin’l-Walid itu.”

Sesudah itu Ali b. Abi Talib yang diutus dengan pesan:

“Pergilah kepada mereka dan lihat bagaimana keadaan mereka.
Cara-cara jahiliah harus kauletakkan di bawah telapak kakimu.”

Ali segera berangkat dengan membawa harta yang oleh Nabi
diserahkan kepadanya. Sesampainya di tempat itu diat dan
pampasan sebagai tebusan darah dan harta-benda yang telah
dirusak, diserahkan kepada mereka, sehingga semua tebusan
darah dan pampasan harta-benda itu selesai dilaksanakan.
Sedang uang selebihnya yang diserahkan Rasulullah kepadanya
itu, semua diserahkan juga kepada mereka, untuk menjaga maksud
Rasulullah, kalau-kalau ada yang belum diketahuinya.

Dalam waktu dua minggu selama Muhammad tinggal di Mekah semua
jejak paganisma sudah dapat dibersihkan. Jabatan dalam Rumah
Suci yang sudah pindah kepada Islam sampai pada waktu itu
ialah kunci Ka’bah, yang oleh Nabi diserahkan kepada Uthman b.
Talha dan sesudah dia kepada anak-anaknya, yang tidak boleh
berpindah tangan, dan barangsiapa mengambilnya orang itu
aniaya adanya. Sedang pengurusan Air Zamzam pada musim haji di
tangan pamannya Abbas.

Dengan demikian seluruh Mekah sudah beriman, panji dan menara
tauhid sudah menjulang tinggi dan selama berabad-abad dunia
sudah pula disinari cahayanya yang berkilauan.

Kategori:religi

pembebasan mekah part 1

Agustus 24, 2010 Tinggalkan komentar

Pengaruh Mu’ta – Quraisy melanggar Perjanjian Hudaibiya
– Khuza’a meminta bantuan Nabi – Utusan Abu Sufyan
kepada Nabi – Sepuluh ribu Muslimin siap ke Mekah –
Harapan Muhammad tanpa pertumpahan darah membebaskan
Mekah – Abbas berangkat menemui Abu Sufyan – Muslimin
datang membebaskan – Muhammad memaafkan musuhnya semua
– Ka’bah dibersihkan dari berhala – Islamnya penduduk
Mekah.

DI BAWAH pimpinan Khalid bin’l-Walid pasukan Muslimin kini
kembali pulang setelah terjadi peristiwa Mu’ta itu. Mereka
kembali tidak membawa kemenangan, juga tidak membawa
kekalahan. Mereka kembali pulang dengan senang hati.

Penarikan mundur ini setelah – Zaid b. Haritha, Ja’far b. Abi
Talib dan Abdullah b. Rawaha tewas – telah meninggalkan kesan
yang berlain-lainan sekali pada pihak Rumawi, pada pihak
Muslimin yang tinggal di Medinah dan pada pihak Quraisy di
Mekah. Rumawi merasa gembira sekali dengan penarikan mundur
pasukan Muslimin itu. Mereka sudah merasa bersyukur, sebab
pertempuran itu tidak sampai berlangsung lama, meskipun
tentara Rumawi terdiri dari seratus ribu menurut satu sumber,
– atau dua ratus ribu menurut sumber yang lain, – sementara
pasukan Muslimin terdiri dari tiga ribu orang. Kegembiraan
pihak Rumawi itu – baik disebabkan oleh ketangkasan Khalid
bin’l-Walid dalam bertahan mati-matian dengan kekuatannya
dalam mengadakan serangan, sehingga ia menghabiskan sembilan
pedang yang patah di tangannya ketika bertempur setelah
tewasnya tiga sahabatnya itu, atau disebabkan oleh
kecerdikannya dalam mengatur dan membagi-bagi pasukannya pada
hari kedua dan yang telah menimbulkan hiruk-pikuk sehingga
pihak Rumawi mengira bahwa bala bantuan telah didatangkan dari
Medinah – namun kabilah-kabilah Arab yang tinggal di
perbatasan dengan Syam sangat kagum sekali melihat tindakan
Muslimin ketika itu.

Karena peristiwa itu pula salah seorang pemimpin mereka (Farwa
b. ‘Amr al-Judhami, seorang komandan pasukan Rumawi) langsung
menyatakan diri masuk Islam. Akan tetapi, atas perintah
Heraklius dia kemudian ditangkap dengan tuduhan berkhianat.
Sungguh pun begitu Heraklius masih bersedia membebaskannya
kembali asal saja ia mau kembali ke dalam pangkuan agama
Nasrani, bahkan ia bersedia mengembalikannya pada jabatan
semula sebagai komandan pasukan. Tetapi Farwa menolak dan
tetap menolak dengan tetap bertahan dalam keislamannya,
sehingga akhirnya ia dibunuh juga. Tetapi karena itu pula
Islam makin luas tersebar di kalangan kabilah-kabilah Najd
yang berbatasan dengan Irak dan Syam. Ketika itu di sana
Rumawi sedang berada dalam puncak kekuasaannya.

Dengan bertambah banyaknya orang masuk ke dalam agama baru ini
Kerajaan Bizantium makin goyah kedudukannya, sehingga ada
penguasa Heraklius, yang bertugas membayar gaji militer,
ketika itu berkata lantang kepada orang-orang Arab Syam yang
ikut dalam perang; “Lebih baik kalian menarik diri. Kerajaan
dengan susah payah baru dapat membayar gaji angkatan
perangnya. Untuk makanan anjingnya pun sudah tidak ada.”

Tidak heran kalau mereka lalu meninggalkan kerajaan dan
meninggalkan angkatan perangnya. Sebaliknya, agama baru ini
makin cemerlang sinarnya memancar dihadapan mereka, yang akan
mengantarkan mereka kepada kebenaran yang lebih tinggi, yang
akan menjadi tujuan umat manusia. Itu pula sebabnya, selama
waktu itu saja ribuan orang telah masuk Islam, yang terdiri
dari kabilah Sulaim dengan pemimpinnya Al-‘Abbas ibn Mirdas,
kabilah-kabilah Asyja’ dan Ghatafan yang dahulu sudah
bersekutu dengan Yahudi sampai hancurnya Yahudi di Khaibar,
demikian juga kabilah-kabilah ‘Abs, Dhubyan dan Fazara.
Peristiwa Mu’ta ini jugalah yang telah imemudahkan persoalan
bagi Muslimin di bagian utara Medinah sampai ke perbatasan
Syam itu, dan ini pula yang telah membuat Islam lebih
terpandang dan lebih kuat.

Akan tetapi buat Muslimin yang tinggal di Medinah pengaruhnya
lain lagi. Bilamana mereka melihat Khalid dan pasukannya
kembali dari perbatasan Syam tidak membawa kemenangan atas
pasukan Heraklius, mereka bersorak-sorak mengatakan: “He
orang-orang pelarian! Kamu lari dari jalan Allah!” Beberapa
orang anggota pasukan itu merasa demikian malu sampai ada yang
tidak berani keluar rumah, supaya jangan lagi diperolok-olok
oleh anak-anak dan pemuda-pemuda Muslimin dengan tuduhan
melarikan diri itu.

Sebaliknya di mata Quraisy, akibat Mu’ta itu dipandang oleh
mereka sebagai suatu kehancuran dan pukulan berat buat
Muslimin, sehingga tak ada lagi orang yang mau menghiraukan
mereka atau menganggap penting segala perjanjian dengan
mereka. Biarlah keadaan kembali seperti sebelum
‘umrat’l-qadza’. Biarlah keadaan kembali seperti sebelum
Perjanjian Hudaibiya. Biarlah orang-orang Quraisy kembali lagi
menyerang kaum Muslimin dan siapa saja yang masih terikat
perjanjian dengan mereka tanpa harus merasa takut ada tindakan
hukum dari Muhammad.

Perdamaian Hudaibiya antara lain sudah menentukan, bahwa
barangsiapa yang ingin masuk kedalam persekutuan dengan
Muhammad boleh saja, dan barangsiapa ingin masuk kedalam
persekutuan dengan pihak Quraisy juga boleh. Ketika itu
Khuza’a masuk bersekutu dengan Muhammad sedang Banu Bakr
dengan pihak Quraisy. Sebenarnya antara Khuza’a dengan Banu
Bakr ini sudah lama timbul permusuhan yang baru reda setelah
ada perjanjian Hudaibiya, masing-masing kabilah menggabungkan
diri dengan pihak yang mengadakan perdamaian itu.

Dengan adanya peristiwa yang telah terjadi di Mu’ta itu,
sekarang terbayang oleh Quraisy bahwa Muslimin pasti mengalami
kehancuran. Sudah terbayang oleh Banu’d-Dil, sebagai bagian
dari Banu Bakr b. ‘Abd Manat, bahwa sekarang sudah tiba
waktunya akan membalas dendam lamanya kepada Khuza’a, ditambah
lagi memang ada segolongan orang dari pihak Quraisy yang ikut
mendorong, diantaranya ‘Ikrima b. Abi Jahl dan beberapa orang
pemimpin Quraisy lainnya yang sekalian memberikan bantuan
senjata.

Malam itu pihak Khuza’a sedang berada di tempat pangkalan air
milik mereka sendiri yang bernama al-Watir, oleh pihak Banu
Bakr mereka diserang dengan tiba-tiba sekali dan beberapa
orang dari pihak Khuza’a dibunuh. Sekarang Khuza’a lari ke
Mekah, berlindung kepada keluarga Budail b. Warqa, dengan
mengadukan perbuatan Quraisy dan Banu Bakr yang telah
melanggar perjanjian dengan Rasulullah itu. Untuk itu ‘Amr b.
Salim dari Khuza’a cepat-eepat pula pergi ke Medinah. Dan bila
ia sudah menghadap Muhammad yang ketika itu sedang dalam
mesjid dengan beberapa orang, diceritakannya apa yang telah
terjadi itu dan ia meminta pertolongannya.

“‘Amr b. Salim, mesti engkau dibela,” kata Rasulullah.

Sesudah itu Budail b. Warqa, bersama beberapa orang dari pihak
Khuza’a kemudian berangkat pula ke Medinah. Mereka melaporkan
kepada Nabi mengenai nasib yang mereka alami itu serta adanya
dukungan Quraisy kepada Banu Bakr. Melihat apa yang telah
dilakukan Quraisy dengan merusak perjanjian itu, maka tak ada
jalan lain menurut Nabi, Mekah harus dibebaskan. Untuk itu ia
bermaksud mengutus orang kepada kaum Muslimin di seluruh
jazirah supaya bersiap-siap menantikan panggilan yang belum
mereka ketahui apa tujuannya panggilan demikian itu.

Sebaliknya orang-orang yang dapat berpikir lebih bijaksana di
kalangan Quraisy, mereka sudah dapat menduga bahaya apa yang
akan timbul akibat tindakan ‘Ikrima dan kawan-kawannya dari
kalangan pemuda itu. Kini persetujuan Hudaibiya sudah
dilanggar, dan pengaruh Muhammad di seluruh jazirah sekarang
sudah bertambah kuat. Sekiranya apa yang telah terjadi itu
dipikirkan, bahwa pihak Khuza’a akan menuntut balas terhadap
penduduk Mekah, pasti Kota Suci itu akan sangat terancam
bahaya. Jadi apa yang harus mereka lakukan sekarang?

Mereka mengutus Abu Sufyan ke Medinah, dengan maksud supaya
persetujuan itu diperkuat kembali dan diperpanjang waktunya.
Barangkali waktu yang sudah itu berlaku untuk dua tahun,
sekarang mereka mau supaya menjadi sepuluh tahun.

Abu Sufyan, sebagai pemimpin mereka dan sebagai orang yang
bijaksana di kalangan mereka kini berangkat menuju Medinah.
Ketika sampai di ‘Usfan dalam perjalanannya itu ia bertemu
dengan Budail b. Warqa, dan rombongannya. Ia kuatir Budail
sudah menemui Muhammad dan melaporkan apa yang telah terjadi.
Hal ini akan lebih mempersulit tugasnya. Tetapi Budail
membantah bahwa ia telah menemui Muhammad. Sungguhpun begitu,
dari kotoran binatang tunggangan Budail itu ia mengetahui,
bahwa orang itu memang dari Medinah. Oleh karena itulah, ia
tidak akan langsung menemui Muhammad lebih dulu, melainkan
akan menuju ke rumah puterinya, Umm Habiba, isteri Nabi.

Mungkin ia (Umm Habiba) memang sudah mengetahui rasa kasih
sayang Nabi kepada Quraisy meskipun ia belum mengetahui apa
yang sudah menjadi keputusannya mengenai Mekah. Dan mungkin
juga semua Muslimin yang ada di Medinah demikian.

Waktu itu Abu Sutyan sudah akan duduk di lapik yang biasa
diduduki Nabi, tapi oleh Umm Habiba lapik itu segera
dilipatnya. Lalu oleh ayahnya ia ditanya, melipat lapik itu
karena ia sayang kepada ayah, ataukah karena sayang kepada
lapik.

“Ini lapik Rasulullah s.a.w.,” jawabnya. “Ayah orang musyrik
yang kotor. Saya tidak ingin ayah duduk di tempat itu.”

“Sungguh engkau akan mendapat celaka, anakku,” kata Abu
Sufyan. Lalu ia keluar dengan marah.

Sesudah itu ia pergi menemui Muhammad, bicara mengenai
perjanjian serta perpanjangan waktunya. Tetapi Nabi tidak
memberikan jawaban samasekali. Selanjutnya ia pergi menemui
Abu Bakr supaya membicarakan maksudnya itu dengan Nabi. Tetapi
Abu Bakr juga menolak. Sekarang Umar bin’l-Khattab yang
dijumpainya. Tetapi Umar memberikan jawaban yang cukup keras:
“Aku mau menjadi perantara kamu kepada Rasulullah? Sungguh,
kalau yang ada padaku hanya remah, pasti dengan itu pun akan
kulawan engkau.” Seterusnya ia menemui Ali b. Abi Talib, dan
Fatimah ada di tempat itu. Dikemukakannya maksud kedatangannya
itu dan dimintanya supaya ia menjadi perantaranya kepada
Rasul. Tetapi Ali mengatakan dengan lemah-lembut bahwa tak ada
orang yang akan dapat menyuruh Muhammad menarik kembali
sesuatu yang sudah menjadi keputusannya. Selanjutnya utusan
Quraisy itu meminta pertolongan Fatimah supaya Hasan – anaknya
– berusaha memintakan perlindungan di kalangan khalayak ramai.

“Tak ada orang akan berbuat demikian itu dengan maksud akan
dihadapkan kepada Rasulullah,” jawab Fatimah.

Sekarang keadaannya jadi makin gawat buat Abu Sufyan. Ia
meminta pendapat Ali.

“Sungguh saya tidak tahu, apa yang kiranya akan berguna buat
kau,” jawab Ali. “Tetapi engkau pemimpin Banu Kinana. Cobalah
minta perlindungan kepada orang ramai; sesudah itu, pulanglah
ke negerimu. Saya kira ini tidak cukup memuaskan. Tapi hanya
itu yang dapat saya usulkan kepadamu.”

Abu Sufyan lalu pergi ke mesjid dan di sana ia mengumumkan
bahwa ia sudah meminta perlindungan khalayak ramai. Kemudian
ia menaiki untanya dan berangkat pulang ke Mekah dengan
membawa perasaan kecewa karena rasa hina yang dihadapinya dari
anaknya sendiri dan dari orang-orang – yang sebelum mereka
hijrah – pernah mengharapkan belas-kasihannya.

Abu Sufyan kembali ke Mekah. Kepada masyarakatnya ia
melaporkan segala yang dialaminya selama di Medinah serta
perlindungan yang dimintanya dari masyarakat ramai atas saran
Ali, dan bahwa Muhammad belum memberikan persetujuannya.

“Sial!” kata mereka. “Orang itu lebih-lebih lagi mempermainkan
kau.”

Lalu mereka kembali lagi mengadakan perundingan.

Sebaliknya Muhammad, ia berpendapat tidak akan memberikan
kesempatan mereka mengadakan persiapan untuk memeranginya.
Oleh karena ia sudah percaya pada kekuatan sendiri dan pada
pertolongan Tuhan kepadanya, ia berharap akan dapat menyergap
mereka dengan tiba-tiba, sehingga mereka tidak lagi sempat
mengadakan perlawanan dan dengan demikian mereka menyerah
tanpa pertumpahan darah.

Oleh karena itu diperintahkannya supaya orang bersiap-siap.
Dan setelah persiapan selesai, diberitahukan kepada mereka,
bahwa kini ia siap berangkat ke Mekah, dan diperintahkan pula
supaya mereka cepat-cepat. Sementara itu ia berdoa kepada
Tuhan mudah-mudahan Quraisy tidak sampai mengetahui berita
perjalanan Muslimin itu.

Ketika tentara Muslimin sudah siap-siap akan berangkat, Hatib
b. Abi Balta’a mengirim sepucuk surat di tangan seorang wanita
dari Mekah, budak salah seorang Banu ‘Abd’l-Muttalib bernama
Sarah dengan dlberi upah supaya surat itu disampaikan kepada
pihak Quraisy, yang isinya memberitahukan, bahwa Muhammad
sedang mengadakan persiapan hendak menghadapi mereka.
Sebenarnya Hatib orang besar dalam Islam. Tapi sebagai
manusia, dari segi kejiwaannya ia mempunyai beberapa
kelemahan, yang kadang cukup menekan jiwanya sendiri dan
menghanyutkannya kedalam suatu masalah yang memang tidak
dikehendakinya. Masalah ini oleh Muhammad segera pula
diketahui.

Cepat-cepat disuruhnya Ali b. Abi Talib dan Zubair
bin’l-‘Awwam mengejar Sarah. Wanita itu disuruh turun, surat
dicarinya di tempat barang tapi tidak juga diketemukan. Wanita
itu diperingatkan, bahwa kalau surat itu tidak dikeluarkan,
merekalah yang akan membongkarnya. Melihat keadaan yang begitu
sungguh-sungguh, wanita itu berkata: Lalulah.

Kemudian ia membuka ikatan rambutnya dan surat itu pun
dikeluarkan, yang oleh kedua orang itu lalu dibawa kembali ke
Medinah.

Sekarang Hatib dipanggil oleh Muhammad dan ditanya kenapa ia
sampai berbuat demikian.

“Rasulullah,” kata Hatib. “Demi Allah, saya tetap beriman
kepada Allah dan kepada Rasulullah. Sedikit pun tak ada
perubahan pada diri saya. Akan tetapi saya, yang tidak punya
hubungan keluarga atau kerabat dengan mereka itu, mempunyai
seorang anak dan keluarga di tengah-tengah mereka. Maka itu
sebabnya saya hendak menenggang mereka.”

“Rasulullah,” sela Umar bin’l-Khattab. “Serahkan kepada saya,
akan saya penggal lehernya. Orang ini bermuka dua.”

“Dari mana engkau mengetahui itu, Umar,” kata Rasulullall.
“Kalau-kalau Allah sudah menempatkan dia sebagai orang-orang
Badr ketika terjadi Perang Badr.” Lalu katanya: “Berbuatlah
sekehendak kamu. Sudah kumaafkan kamu.”

Dan Hatib memang orang yang ikut dalam Perang Badr. Ketika
itulah firman Tuhan datang:

“Orang-orang yang beriman! Janganlah musuhKu dan musuh kamu
dijadikan sahabat-sahabat kamu, dengan memperlihatkan
kasih-sayang kamu kepada mereka.” (Qur’an, 60: 1)

Sekarang pasukan tentara Muslimin sudah mulai bergerak dari
Medinah menuju Mekah, dengan tujuan membebaskan kota itu serta
menguasai Rumah Suci, yang oleh Tuhan telah dijadikan tempat
berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman.

Pasukan ini bergerak dalam suatu jumlah yang belum pernah
dialami oleh kota Medinah. Mereka terdiri dan kabilah-kabilah
Sulaim, Muzaina, Ghatafan dan yang lain, yang telah
menggabungkan diri, baik kepada Muhajirin atau pun kepada
Anshar. Mereka berangkat bersama-sama dengan mengenakan
pakaian besi. Mereka melingkar ke tengah-tengah padang sahara
yang membentang luas itu, sehingga apabila kemah-kemah mereka
sudah dikembangkan, tertutup belaka oleh debu pasir sahara
itu; sehingga karenanya orang takkan dapat melihatnya. Mereka
yang terdiri dari ribuan orang itu telah mengadakan gerak
cepat. Setiap mereka melangkah maju, kabilah-kabilah lain ikut
menggabungkan diri, yang berarti menambah jumlah dan menambah
kekuatan pula. Semua mereka berangkat dengan kalbu yang penuh
iman, bahwa dengan pertolongan Allah mereka akan mendapat
kemenangan. Perjalanan ini dipimpin oleh Muhammad dengan
pikiran dan perhatian tertuju hanya hendak memasuki Rumah Suci
tanpa akan mengalirkan darah setetes sekalipun.

Bila pasukan ini sudah sampai di Marr’z-Zahran1 dan jumlah
anggota pasukan sudah mencapai sepuluh ribu orang, pihak
Quraisy belum juga mendapat berita. Mereka masih dalam
silang-sengketa, bagaimana caranya akan menangkis serangan
dari Muhammad.

Oleh Abbas b. ‘Abd’l-Muttalib – paman Nabi ditinggalkannya
mereka itu dalam perdebatan dan dia sendin sekeluarga
berangkat menemui Muhammad di Juhfa.2 Boleh jadi sudah ada
orang-orang dari Banu Hasyim yang sudah menerima berita atau
semacam berita tentang kebenaran Nabi. Lalu mereka bermaksud
menggabungkan diri tanpa akan mendapat sesuatu gangguan.

Kategori:religi

perang uhud part 2

Agustus 24, 2010 Tinggalkan komentar

Setelah dijelaskan maksud kedatangannya, mereka memperlihatkan
sikap gembira dan dengan senang hati bersedia mengabulkan.
Akan tetapi, sementara sebagian mereka sedang asyik
bercakap-cakap dengan dia, dilihatnya yang lain sedang
berkomplot. Salah seorang dari mereka pergi menyisih ke suatu
tempat dan tampaknya mereka sedang mengingatkan kematian Ka’b
b. Asyraf. Salah seorang dari mereka itu (‘Amr b. Jihasy b.
Ka’b) tampak memasuki rumah tempat Muhammad sedang duduk-duduk
bersandar di dinding. Ketika itulah ia merasa curiga sekali,
lebih-lebih lagi karena persekongkolan mereka dan percakapan
mereka itu telah didengarnya.

Dengan demikian, diam-diam ia menarik diri dari tempat itu
dengan meninggalkan sahabat-sahabatnya. Mereka menduga ia
pergi untuk suatu urusan.

Sebaliknya pihak Yahudi, mereka jadi kebingungan. Tidak tahu
lagi mereka; apa yang harus mereka katakan, dan apa pula yang
harus mereka perbuat terhadap sahabat-sahabat Muhammad. Kalau
mereka ini yang akan mereka jerumuskan niscaya Muhammad akan
mengadakan pembalasan keras. Jika mereka biarkan saja,
kalau-kalau persekongkolan mereka terhadap Muhammad dan
sahabat-sahabatnya tetap tak akan terbongkar. Dengan demikian
perjanjian mereka dengan pihak Muslimin tetap berlaku. Jadi
sekarang mereka berusaha meyakinkan tamu-tamu Muslimin itu
yang mungkin akan dapat menghilangkan rasa kecurigaan mereka
tanpa samasekali menyebut-nyebut hal tersebut.

Tetapi sahabat-sahabat Muhammad setelah lama menunggunya,
mereka pun pergi pula mencarinya. Tatkala ada orang yang
datang dari Medinah dijumpai, tahulah mereka bahwa Muhammad
sudah sampai di kota itu dan langsung menuju ke mesjid. Mereka
pun juga pergi ke sana. Ia menceritakan kepada mereka mengenai
apa yang telah menimbulkan kecurigaan dari sikap orang Yahudi
itu serta maksud mereka yang hendak mengkhianatinya. Barulah
mereka menyadari apa yang telah mereka lihat itu. Mereka
percaya akan ketajaman pandangan Rasul serta akan apa yang
telah diwahyukan kepadanya.

Kemudian Nabi memanggil Muhammad b. Maslama, dan katanya:

“Pergilah kepada Yahudi Banu Nadzir dan katakan kepada mereka,
bahwa Rasulullah mengutus aku kepada kamu sekalian supaya kamu
keluar dari negeri ini. Kamu telah melanggar perjanjian yang
sudah kubuat dengan kamu dengan maksudmu hendak mengkhianati
aku. Aku memberikan waktu sepuluh hari kepada kamu.
Barangsiapa yang masih terlihat sesudah itu akan dipenggal
lehernya.”

Yahudi Banu Nadzir sekarang merasa putus asa dan kebingungan.
Atas keterangan itu mereka tidak dapat membela diri lagi,
mereka tidak menjawab apa-apa lagi; kecuali katanya kepada Ibn
Maslama:

“Muhammad, kami tidak menduga hal ini akan datang dari orang
golongan Aus.” Ini adalah suatu isyarat tentang persekutuan
mereka dengan pihak Aus dahulu dalam perang dengan Khazraj,
tetapi Ibn Maslama hanya menjawab:

“Hati orang sudah berubah.”

Selama beberapa hari golongan ini sudah bersiap-siap. Tetapi
dalam pada itu tiba-tiba datang pula dua orang suruhan
Abdullah b. Ubayy dengan mengatakan: “Jangan ada orang yang
mau meninggalkan rumah-rumah kamu dan harta benda kamu.
Tetaplah bertahan dalam benteng kamu sekalian. Dari golonganku
sendiri ada dua ribu orang dan selebihnya dari golongan Arab
yang akan bergabung dengan kita dalam benteng dan mereka akan
bertahan sampai titik darah penghabisan, sebelum ada pihak
lain menyentuh kamu.”

Banu Nadzir mengadakan perundingan atas keterangan Ibn Ubayy
itu. Mereka tambah bingung. Ada yang samasekali tidak percaya
kepada Ibn Ubayy. Bukankah dulu pernah ia menjanjikan Banu
Qainuqa’ seperti yang dijanjikannya kepada Banu Nadzir
sekarang, tetapi tiba waktunya ia cuci tangan dan menghilang
meninggalkan mereka? Juga mereka mengetahui, bahwa Banu
Quraidza takkan dapat membela mereka mengingat adanya suatu
perjanjian dengan pihak Muhammad. Disamping itu, kalau mereka
keluar dari kampung mereka itu ke Khaibar atau ke tempat lain
yang berdekatan mereka masih akan dapat kembali ke Yathrib
bila kurma mereka nanti sudah berbuah; mereka akan memetik
buah kurma itu lalu kembali ke tempat mereka semula. Mereka
tidak akan mengalami banyak kerugian

“Tidak,” kata Huyayy b. Akhtab pemimpin mereka. “Malah kita
yang harus mengirim pesan kepada Muhammad: bahwa kita tidak
akan meninggalkan kampung kita dan harta-benda kita. Terserah
apa yang akan diperbuat. Kita hanya tinggal memperbaiki kubu
kita; kita akan memasuki tempat ini sesuka hati kita. Kita
akan membiasakan memakai jalan-jalan kita, kita pindahkan
batu-batu ke tempat itu. Persediaan makanan kita cukup buat
setahun, air pun tidak pernah terputus. Muhammad tidak akan
mengepung kita setahun penuh.”

Tetapi sepuluh hari sudah lampau. Mereka tidak juga keluar
dari perkampungan itu.

Dengan membawa senjata pihak Muslimin selama duabelas malam
bertempur melawan mereka. Ketika itu bila sudah tampak
Muslimin di jalan-jalan atau di rumah-rumah, mereka mundur ke
rumah berikutnya sesudah rumah-rumah itu mereka robohkan.
Kemudian Muhammad memerintahkan sahabat-sahabatnya menebangi
pohon-pohon kurma kepunyaan orangorang Yahudi itu, lalu
membakarnya. Dengan demikian orang-orang Yahudi itu tidak akan
terlalu terikat pada harta-bendanya lagi dan tidak akan
terlalu bersemangat mau berperang

Dengan tidak sabar orang-orang Yahudi itu berteriak:

“Muhammad! Tuan melarang orang berbuat kerusakan. Tuan cela
orang yang berbuat begitu. Tetapi kenapa pohon-pohon kurma
ditebangi dan dibakar?!”

Dalam hal ini firman Tuhan turun:

“Mana pun pohon kurma yang kamu tebang atau kamu biarkan
berdiri dengan batangnya, adalah dengan ijin Allah juga, dan
karena Ia hendak mencemoohkan mereka yang melanggar hukum
itu.”(Qur’an, 59: 5)

Sia-sia saja rupanya pihak Yahudi itu menunggu adanya bantuan
dari Abdullah b. Ubayy atau pertolongan yang mungkin datang
dan salah satu golongan Arab. Sekarang mereka yakin, bahwa
mereka hanya akan beroleh nasib buruk saja apabila terus
bersitegang hendak berperang. Setelah ternyata mereka dalam
putus-asa dan ketakutan, mereka meminta damai kepada Muhammad,
meminta jaminan keamanan atas harta-benda, darah serta
anak-anak keturunan mereka; sampai mereka keluar dari Medinah.
Muhammad pun mengabulkan permintaan mereka; asal mereka keluar
dari kota itu: Setiap tiga orang diberi seekor unta dengan
muatan harta-benda; persediaan makanan dan minuman sesuka hati
mereka. Di luar itu tidak ada. Pihak Yahudi menerima. Mereka
dipimpin oleh Huyayy b. Akhtab.

Dalam perjalanan itu mereka ada yang berhenti di Khaibar, yang
lain meneruskan perjalanan sampai ke Adhri’at di bilangan
Syam. Harta-benda yang mereka tinggalkan menjadi barang
rampasan Muslimin yang terdiri dari hasil bumi, senjata berupa
50 buah baju besi, 340 bilah pedang, di samping tanah milik
orang-orang Yahudi itu. Tetapi tanah ini tidak dapat dianggap
sebagai rampasan perang; oleh karenanya tak dapat
dibagi-bagikan kepada kaum Muslimin, melainkan khusus di
tangan Rasulullah yang nantinya akan ditentukan sendiri
menurut kebijaksanaannya. Dan tanah itu kemudian
dibagi-bagikan kepada golongan Muhajirin yang pertama di luar
golongan Anshar, setelah dikeluarkan bagian khusus yang
hasilnya akan menjadi hak fakir-miskin. Dengan demikian kaum
Muhajirin itu tidak perlu lagi harus menerima bantuan kaum
Anshar dan inipun sudah menjadi harta kekayaan mereka. Dari
pihak Anshar yang turut mendapat bagian hanya Abu Dujana dan
Sahl b. Hunaif, yang sudah terdaftar sebagai orang miskin.

Muhammad memberikan bagian kepada mereka ini seperti kepada
kaum Muhajirin.

Dari golongan Yahudi Banu Nadzir sendiri tak ada yang masuk
Islam kecuali dua orang. Mereka masuk Islam karena harta
mereka, yang kemudian mereka peroleh kembali.

Tidak begitu sulit orang akan menilai arti kemenangan Muslimin
serta pengosongan Banu Nadzir dari Medinah itu, setelah kita
kemukakan betapa Rasul .a.s. memperhitungkan, bahwa adanya
mereka di tempat itu akan memberikan semangat dalam
menimbulkan bibit-bibit fitnah, akan mengajak orang-orang
munafik itu mengangkat kepala setiap mereka melihat pihak
Muslimin mendapat bencana dan mengancam timbulnya perang
saudara bila saja ada musuh menyerang kaum Muslimin.

Tentang perginya Banu Nadzir itu Surah Hasyr (59) ini turun:

“Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang bersikap munafik,
yang berkata kepada saudara-saudaranya yang tak beriman dari
kalangan Ahli Kitab: Kalau kamu diusir keluar, niscaya kami
pun akan keluar bersama kamu, dan tidak sekali-kali kami akan
dipengaruhi oleh siapa pun menghadapi persoalanmu ini; dan
kalau kamu dipengaruhi niscaya kami pun akan membelamu. Tetapi
Tuhan mengetahui, bahwa mereka adalah pendusta belaka.
Kalaupun mereka ini diusir keluar, mereka pun tidak akan ikut
bersama-sama keluar, juga kalau mereka ini diperangi, mereka
pun tidak akan turut membantu. dan kalaupun mereka sampai
membantu, niscaya mereka akan lari mengundurkan diri; lalu
mereka ini tidak mendapat pertolongan. Sungguh dalam hati
mereka kamu sangat ditakuti lebih dari Allah. Demikian itulah,
sebab mereka adalah golongan yang tidak mengerti.” (Qur’an,
59: 11-13)

Kemudian Surah itu dilanjutkan dengan memberi keterangan
tentang iman dan kekuasaannya. Iman hanya kepada Allah
semata-mata. Bagi jiwa manusia, yang tahu harga diri dan
kehormatan dirinya, yang dikenalnya hanyalah kekuasaan Tuhan.

“Dialah Allah. Tiada tuhan selain Dia. Maha mengetahui segala
yang gaib dan yang nyata. Dia Pengasih dan Penyayang. Dialah
Allah. Tiada tuhan selain Dia. Maha Raja, Maha Kudus. Pembawa
Keselamatan, Keamanan, Penjaga segalanya, Maha Kuasa, Maha
Perkasa, Maha Agung. Maha Suci Allah dari segala yang mereka
persekutukan. Dialah Allah. Pencipta, Pengatur, Pembentuk
rupa, PadaNyalah ada Asma Yang Indah. Segala yang ada di
langit dan di bumi berbakti kepadaNya. Dan Dia Maha Kuasa,
Maha Bijaksana.” (Qur’an, 59: 22 – 24)

Sampai pada waktu dikosongkannya Medinah dari Banu Nadzir,
yang menjadi sekretaris Nabi ketika itu ialah orang Yahudi.
Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pengiriman surat-surat
dalam bahasa Ibrani dan Asiria. Tetapi setelah orang-orang
Yahudi keluar, Nabi jadi kuatir kalau jabatan yang memegang
rahasianya itu bukan di tangan orang Islam. Dari kalangan
pemuda Islam di Medinah dimintanya Zaid b. Thabit supaya
mempelajari kedua bahasa tersebut, yang dalam segala urusan
kemudian ia akan menjadi sekretaris Nabi. Dan Zaid b. Thabit
inilah yang telah mengumpulkan Qur’an pada masa khilafat Abu
Bakr, dan dia pula yang kembali dan mengawasi pengumpulan
Qur’an tatkala terjadi perbedaan cara membaca pada masa
pemerintahan Usman. Lalu yang dipakai hanya Mushhaf Usman,
yang lain dibakar.

Suasana Medinah jadi tenteram setelah Yahudi Banu Nadzir
keluar. Pihak Muslimin tidak lagi merasa takut terhadap
orang-orang munafik. Bahkan kaum Muhajirin bersuka hati
memperoleh tanah bekas orang-orang Yahudi itu. Juga kalangan
Anshar turut gembira karena Muhajirin sudah tidak lagi
bergantung pada bantuan mereka. Hati mereka semua merasa lega.
Dalam suasana yang begitu tenang, aman dan tenteram, baik
Muhajirin maupun Anshar, semua mereka merasa senang. Dalam
pada mereka dalam keadaan demikian, setelah berlalu waktu
setahun sejak peristiwa Uhud, teringat oleh Muhammad
‘alaihi’sh shalatu was-salam – ucapan Abu Sufyan: “Yang
sekarang ini untuk peristiwa perang Badr. Sampai jumpa tahun
depan!” serta ajakannya kepada Muhammad untuk mengadakan
perang Badr lagi. Tetapi tahun itu sedang terjadi musim kering
(paceklik). Harapan Abu Sufyan ialah sekiranya perang itu
diadakan dalam waktu lain saja.

Untuk itu diutusnya Nusaim (b. Mas’ud) ke Medinah dengan
mengatakan kepada pihak Muslimin, bahwa Quraisy telah
mengerahkan tentaranya begitu besar yang belum ada taranya
dalam sejarah Arab; sudah siap akan memerangi mereka, akan
menghancur-luluhkan mereka sehingga tidak akan tersisa lagi.
Tampaknya kaum Muslimin pun mau menghindari bahaya itu. Banyak
diantara mereka yang memperlihatkan keengganan pergi ke Badr.
Tetapi Muhammad jadi marah karena sikap lemah dan mau surut
itu. Ia bersumpah mengatakan kepada mereka, bahwa ia akan
pergi juga ke Badr walaupun seorang diri.

Melihat kejengkelan yang luar biasa itu segala sikap maju
mundur dan perasaan takut-takut segera lenyap. Kaum Muslimin
sekarang siap memanggul senjata dan berangkat ke Badr. Dalam
hal ini pimpinan kota Medinah oleh Nabi diserahkan kepada
Abdullah b. Abdullah b. Ubayy b. Salul.

Muslimin yang sudah sampai di Badr, sekarang menantikan
kedatangan Quraisy. Mereka sudah siap bertempur. Demikian juga
pihak Quraisy dengan pimpinan Abu Sufyan sudah pula berangkat
dari Mekah dengan kekuatan 2000 orang. Tetapi sesudah dua hari
perjalanan tampaknya Abu Sufyan mau kembali pulang. Ia
memanggil-manggil teman-temannya sambil katanya:

“Saudara-saudara dari Quraisy, sebenarnya yang cocok buat kita
hanyalah dalam musim subur, sedang sekarang kita dalam musim
kering. Saya sendiri mau kembali pulang. Maka pulang sajalah
kamu sekalian.”

Mereka itu kembali pulang.

Tinggal lagi Muhammad dengan tentara Muslimin selama delapan
hari terus-menerus menantikan mereka, yang selama di Badr itu
pula waktu mereka pergunakan sambil berdagang. Dan dalam
perdagangan itu mereka mendapat laba. Mereka kembali ke
Medinah pun kemudian dengan gembira, telah mendapat karunia
dari Tuhan. Dalam Badr Terakhir itulah firman Tuhan ini turun:

“Mereka yang berkata kepada teman-temannya, dan mereka sendiri
tinggal di belakang: ‘Sekiranya mereka itu mengikut kita,
niscaya mereka takkan mati terbunuh.’ Katakanlah: Cobalah
hindarkan dirimu dari kematian, kalau memang kamu orang-orang
yang benar. Jangan kamu kira orang-orang yang terbunuh di
jalan Allah itu sudah mati. Tidak! Mereka itu hidup dengan
mendapat bagian dari Tuhan. Mereka dalam suasana gembira
karena karunia yang diberikan Tuhan juga; mereka girang sekali
terhadap mereka yang tidak ikut dan tinggal di belakang, bahwa
mereka tidak merasa takut dan tidak pula berdukacita. Mereka
girang karena karunia dan nikmat Tuhan dan Tuhan tidak akan
menghilangkan jasa orang-orang beriman, orang-orang yang telah
memenuhi panggilan, Tuhan dan Rasul meskipun mereka sudah
mengalami malapetaka, orang-orang yang berbuat baik dan dapat
memelihara diri dari kejahatan; mereka itulah yang akan
mendapat pahala besar. Orang yang sudah berkata kepada mereka:
‘Sebenarnya orang-orang sudah berkumpul hendak melawan kamu.
Karena itu hendaklah kamu takut kepada mereka. Tetapi hal ini
bahkan menambah kuat iman mereka, dan jawab mereka: Cukup
Tuhan bersama kami dan Ia Pelindung yang sebaik-baiknya.
Mereka kembali mendapatkan nikmat dan karunia dari Tuhan.
Mereka tidak mengalami bencana, dan mereka mengikut perkenaan
Allah. Dan Allah Maha Pemberi karunia yang besar. Yang
demikian itu hanyalah setan yang menakut-nakuti
pengikut-pengikutnya. Jangan kamu takut kepada mereka, tapi
takutlah kepadaKu, kalau benar-benar kamu orang-orang
beriman.” (Qura’an, 3: 168 – 175)

Dengan demikian perang Badr yang terakhir benar-benar telah
menghapus pengaruh perang Uhud samasekali. Buat Quraisy hanya
tinggal lagi menunggu kesempatan lain, dengan tetap mereka
bergelimang dalam kecemaran karena sifat pengecutnya yang
tidak kurang cemarnya dari kekalahan yang mereka derita dalam
perang Badr pertama.

Dengan pertolongan Tuhan itu Muhammad merasa lega tinggal di
Medinah, merasa tenteram hatinya karena kewibawaan Muslimin
kini telah kembali. Sungguhpun begitu ia selalu waspada
terhadap segala tipu-muslihat musuh, selalu awas-awas ke
segenap jurusan.

Sementara dalam keadaan demikian itu, tiba-tiba terbetik
berita, bahwa ada sebuah kelompok dari Ghatafan di Najd yang
sedang bersepakat hendak memeranginya. Dan taktiknya selalu
dalam hal ini ialah menyergap musuh secara tiba-tiba sebelum
musuh itu sempat mengadakan persiapan mempertahankan diri.
Oleh karena itulah, dengan kekuatan empat ratus orang ia
berangkat menuju Dhat’r-Riqa’. Di tempat ini pihak Banu
Muharib dan Banu Tha’laba dari Ghatafan sudah berkumpul.
Begitu ia dilihat oleh mereka, ia langsung melakukan
penyerbuan ke tempat-tempat mereka itu. Dengan meninggalkan
kaum wanita dan harta, mereka lari tunggang-langgang. Apa yang
dapat dibawa oleh Muslimin dibawanya, dan mereka kembali
pulang ke Medinah.

Akan tetapi, karena dikuatirkan pihak musuh akan kembali
menyerang mereka, siang malam mereka pun secara bergantian
mengadakan penjagaan. Dalam pada itu dalam memimpin sembahyang
juga oleh Muhammad dilakukan dengan salat khauf.1 Dalam hal
ini sebagian mereka menghadap ke jurusan musuh, karena
dikuatirkan kalau-kalau pihak musuh menyusul menyerang mereka,
sementara mereka sedang bersembahyang dua raka’at bersama-sama
Muhammad itu. Akan tetapi selama itu tidak ada bayangan musuh
yang tampak. Kemudian Nabi dan sahabat-sahabat kembali ke
Medinah setelah 15 hari meninggalkan kota itu. Dengan sukses
demikian ini mereka kembali dengan gembira sekali.

Tidak lama sesudah itu Nabi pun berangkat lagi dalam suatu
ekspedisi, yakni ekspedisi Dumat’l-Jandal. Dumat’l-Jandal ini
adalah sebuah wahah (oasis) pada perbatasan Hijaz-Syam, yang
terletak pada pertengahan jalan antara Laut Merah dengan Teluk
Persia. Muhammad sendiri tidak sampai bertemu dengan
kabilah-kabilah yang ingin dihadapinya itu dan yang suka
menyerang kafilah-kafilah di sana; sebab baru mereka mendengar
namanya saja, mereka sudah ketakutan dan sudah kabur lebih
dulu, dengan meninggalkan harta benda yang kemudian dibawa
Muslimin sebagai barang ghanima (rampasan perang). Berdasarkan
batas Dumat’l-Jandal secara geografis kita sudah dapat melihat
betapa luasnya pengaruh Muhammad dan sahabat-sahabatnya itu,
betapa jauhnya kekuasaan mereka dan betapa pula seluruh
jazirah itu merasa takut. Begitu juga kita melihat bagaimana
Muslimin itu menanggung segala macam beban dalam
ekspedisi-ekspedisi itu, dengan tidak pedulikan panas terik
yang rnembakar, tanah yang kering dan gersang, air yang sukar
diperoleh, bahkan maut sendiri pun tidak lagi mereka hiraukan.
Hanya satu yang menggerakkan mereka sampai mencapai kemenangan
dan sukses itu, yang telah memberikan kekuatan moril kepada
mereka, yaitu: keteguhan iman, iman yang hanya kepada Allah
semata-mata.

Sekarang tiba waktunya buat Muhammad beristirahat di Medinah
untuk selama beberapa bulan berikutnya, sementara menantikan
Quraisy sampai tahun depan – tahun kelima Hijrah – dan
menjalankan perintah Tuhan menyelesaikan suatu susunan
masyarakat bagi umat Islam yang baru tumbuh itu, suatu
organisasi yang pada waktu itu meliputi beberapa ribu orang
dan yang kemudian akan meliputi jutaan bahkan ratusan juta
umat Islam. Dalam membuat struktur masyarakat itu, ia
bertindak dengan cara yang begitu cermat dan baik sekali,
sejalan dengan wahyu Tuhan yang diberikan kepadanya, dan
ditentukannya sendiri pula mana-mana yang sesuai dengan
perintah dan ajaran wahyu itu, dengan ketentuan-ketentuan
terperinci yang oleh sahabat-sahabat pada waktu itu diberi
tempat yang suci, dan yang selanjutnya akan tetap berlaku
begitu sepanjang masa dan generasi; wahyu yang tiada dimasuki
kepalsuan dari manapun juga, baik dari semula maupun sesudah
itu.

Kategori:religi

perang uhud part 1

Agustus 24, 2010 Tinggalkan komentar

Kabilah-kabilah berkomplot terhadap Muslimin – Serbuan
Banu Asad Khalid al-Hudhali – Terbunuhnya Khubaib
dan teman-temannya di Raji’ – Terbunuhnya Muslimin di
Bi’ir Ma’una – Pengosongan Banu Nadzir dari Medinah –
Ekspedisi Badr yang terakhir – Ekspedisi
Dumat’l-Jandal.

ABU SUFYAN telah kembali dari Uhud ke Mekah. Berita-berita
kemenangannya sudah lebih dulu sampai, yang disambut penduduk
dengan rasa gembira, karena dianggap sudah dapat menghapus
cemar yang dialami Quraisy selama di Badr. Begitu sampai ia ke
Mekah, langsung menuju Ka’bah sebelum ia pulang ke rumah.
Kepada Hubal dewa terbesar ia menyatakan puji dan syukur.
Dicukurnya lebih dulu rambut yang di bawah telinganya, lalu ia
pulang ke rumah sebagai orang yang sudah memenuhi janji bahwa
ia takkan mendekati isterinya sebelum dapat mengalahkan
Muhammad.

Sebaliknya kalangan Muslimin, mereka melihat kota Medinah
sudah banyak terasa aneh sekali, meskipun musuh tetap
mengejar-ngejar mereka. Selama tiga hari terus-menerus mereka
tetap tabah menghadapi musuh yang masih tidak mempunyai
keberanian menghadapi mereka itu. Padahal belum selang
duapuluh empat jam yang lalu musuh telah merasa sebagai pihak
yang menang.

Pihak Muslimin melihat keadaan Medinah itu sudah terasa banyak
sekali mengalami perubahan, meskipun kekuasaan Muhammad di
kota itu tetap di atas. Dalam pada itu Nabi as. merasa, bahwa
keadaan memang sudah sangat genting dan gawat sekali, bukan
hanya dalam kota Medinah saja, bahkan juga sudah melampaui
sampai kepada kabilah-kabilah Arab lainnya, yang memang sudah
merasa ketakutan. Peristiwa Uhud membawa perasaan lega kepada
mereka, sehingga terpikir oleh mereka itu hendak menentangnya
lagi dan mengadakan perlawanan. Oleh karena itu ia ingin
sekali mengikuti berita-berita sekitar penduduk Medinah dan
kalangan Arab umumnya, yang kiranya akan memberikan suatu
kemungkinan menempatkan kembali kedudukan, kekuatan dan
kewibawaan Muslimin kedalam hati mereka.

Berita pertama yang sampai kepadanya sesudah peristiwa Uhud,
ialah bahwa Tulaiha dan Salama bin Khuailid dua bersaudara –
dan keduanya waktu itu yang memimpin Banu Asad – sedang
mengerahkan masyarakatnya dan mereka yang mau mentaatinya,
untuk menyerang Medinah dan menyerbu Muhammad sampai ke dalam
rumahnya sendiri dengan maksud memperoleh keuntungan dan
merampas ternak Muslimin yang dipelihara di ladang-ladang
sekeliling kota itu. Yang menyebabkan mereka berani berbuat
begitu ialah karena anggapan bahwa Muhammad dan teman-temannya
masih menderita karena telah mengalami pukulan hebat selama di
Uhud.

Berita itu terbetik juga oleh Nabi. Ia segera memanggil Abu
Salama b. Abd’l-Asad yang lalu diserahi pimpinan pasukan yang
terdiri dari 150 orang, termasuk Abu ‘Ubaida bin’l-Jarrah,
Sa’d b. Abi Waqqash dan Usaid b. Hudzair. Mereka diperintahkan
supaya berjalan pada malam hari dan siangnya bersembunyi
dengan menempuh jalan yang tidak biasa dilalui orang, supaya
jangan ada orang yang mengenal jejak mereka. Dengan demikian
mereka akan dapat menyergap musuh dengan cara yang tiba-tiba
sekali. Perintah ini oleh Abu Salama dilaksanakan. Ia berhasil
menyerbu musuh dalam keadaan tidak siap. Dalam pagi buta
mereka sudah terkepung. Dikalahkannya anak buahnya dalam
menghadapi perjuangan itu. Tetapi pihak musyrik sudah tak
dapat bertahan lagi. Dua pasukan segera dikirim mengejar
mereka dan merebut rampasan perang yang ada. Ia dan anak
buahnya menunggu di tempat itu sambil menantikan pasukan
pengejar itu kembali membawa rampasan perang.

Setelah seperlima rampasan itu dikeluarkan untuk Tuhan, untuk
Rasul, orang miskin dan orang yang dalam perjalanan,
selebihnya mereka bagi sesama mereka, lalu mereka kembali ke
Medinah dengan sudah membawa kemenangan. Kewibawaan yang
karena peristiwa Uhud itu terasa sudah agak berkuramg, kini
mulai kembali lagi. Hanya saja Abu Salama sendiri hidup tidak
lama lagi sesudah ekspedisi itu. Ia menderita luka-luka akibat
perang Uhud dan luka-lukanya itu belum sembuh benar kecuali
yang tampak dari luar saja. Tetapi sesudah ia bekerja keras
lukanya itu terbuka dan kembali mengucurkan darah, yang
diderita terus sampai meninggalnya.

Sesudah itu kemudian sampai pula berita kepada Muhammad bahwa
Khalid b. Sufyan b. Nubaih al-Hudhali yang tinggal di Nakhla
atau di ‘Urana telah mengumpulkan orang pula hendak
menyerangnya. Mendengar ini Muhammad segera mengutus Abdullah
b. Unais meneliti dan mencek kebenaran berita tersebut.
Abdullah berjalan menuju ke tempat Khalid, yang ketika itu
dijumpainya ia sedang berada di rumah bersama dengan
isteri-isterinya.

“Siapa kamu,” tanya Khalid setelah Abdullah sampai.

“Saya dari golongan Arab juga,” jawabnya. “Mendengar tuan
mengumpulkan orang hendak menyerang Muhammad maka saya datang
kemari.”

Khalid berterus-terang, bahwa ia memang sedang mengumpulkan
orang hendak menyerang Medinah. Setelah Abdullah melihat
sekarang ia seorang diri jauh dari anak-buahnya – kecuali
isteri-isterinya – dicarinya jalan supaya ia mau berjalan
bersama-sama. Begitu ia mendapat kesempatan dihantamnya orang
itu dengan pedangnya dan dia pun menemui ajalnya. Dibiarkannya
dia di tangan isteri-isterinya yang berkerumun menangisinya.
Sekembalinya ke Medinah disampaikannya berita itu kepada
Rasul.

Setelah kematian pemimpinnya itu, Banu Lihyan sebagai cabang
Hudhail yang selama beberapa waktu tenang-tenang saja,
sekarang mulai terpikir akan mengadakan pembalasan dengan
suatu tipu-muslihat.

Pada waktu itulah kabilah yang berdekatan itu mengutus
rombongan kepada Muhammad dengan mengatakan: Di kalangan kami
ada beberapa orang Islam. Kirimkanlah beberapa orang sahabat
tuan bersama kami, yang akan dapat kelak mengajarkan hukum
agama dan Qur’an kepada kami.

Untuk menunaikan tugas agama yang mulia itu, setiap diperlukan
pada waktu itu Muhammad selalu siap mengutus
sahabat-sahabatnya untuk memberikan bimbingan kepada orang
dalam mengenal Tuhan dan agama yang benar, serta untuk menjadi
pengikut Muhammad dan sahabat-sahabatnya menghadapi lawan,
seperti yang sudah kita lihat, ketika mereka dulu diutus ke
Medinah sesudah Ikrar ‘Aqaba kedua. Oleh karena itu enam orang
sahabat besar kemudian diutusnya berangkat bersama-sama dengan
rombongan utusan itu. Tetapi sesampainya di suatu pangkalan
air kepunyaan Hudhail di bilangan Hijaz, di suatu daerah yang
disebut ar-Raji’, ternyata mereka telah dikhianati, dengan
tindakan rombongan itu yang sudah tentu dengan meminta bantuan
Hudhail. Tetapi ini tidak membuat keenam orang Muslimin itu
jadi gugup ketakutan, yang dalam perlengkapannya itu mereka
hanya membawa pedang. Kaum Muslimin itu segera mencabut pedang
hendak mempertahankan diri. Tetapi pihak Hudhail berkata
kepada mereka:

“Demi Allah, kami tidak ingin membunuh kamu. Tapi dengan kamu
ini kami ingin memperoleh keuntungan dari penduduk Mekah. Kami
berjanji atas nama Tuhan bahwa kami tidak bermaksud membunuh
kamu.”

Keenam orang Muslim itu berpandang-pandangan. Mereka sadar
sudah bahwa dibawanya mereka satu-satu ke Mekah itu berarti
suatu penghinaan yang sebenarnya lebih jahat dari pembunuhan.
Mereka menolak janji Hudhail itu, dan mereka tetap akan
mengadakan perlawanan, meskipun mereka sudah menyadari, bahwa
dalam jumlah yang sekecil itu mereka tidak berdaya. Tiga orang
dari mereka ini dibunuh oleh Hudhail, sedang sisanya sudah
makin tak berdaya. Mereka semua ditangkap dan dibawa sebagai
tawanan, yang kemudian dibawa ke Mekah dan dijual. Abdullah b.
Tariq, salah seorang dari ketiga orang Islam itu di tengah
jalan berhasil melepaskan belenggu dari tangannya lalu ia
mencabut pedang. Oleh karena rombongan yang lain berada di
belakangnya, dihujaninya ia dengan batu dan ia puntewas
karenanya.

Kedua orang tawanan lainnya sempat dibawa oleh Hudhail ke
Mekah, lalu dijual. Zaid bin’d-Dathinna dijual kepada Shafwan
b. Umayya yang sengaja membelinya untuk dibunuh. Ia diserahkan
kepada Nastas, budaknya supaya membunuhnya sebagai balasan
atas kematian ayahnya Umayya b. Khalaf. Ketika dibawa, oleh
Abu Sufyan ia ditanya:

“Zaid, sangat kuharapkan sekali. Bersediakah engkau
memberikan tempatmu itu kepada Muhammad? Dialah yang harus
dipenggal lehernya, sedang engkau dapat kembali kepada
keluargamu.”

“Tidak,” jawab Zaid. “Sekiranya Muhammad ditempatnya sekarang
ini akan menderita karena tusukan duri sekalipun, sedang aku
di tempat keluarga, aku tidak sudi.”

Abu Sufyan kagum sekali, seraya katanya:

“Belum pernah aku melihat seseorang mencintai kawannya
demikian rupa seperti sahabat-sahabat Muhammad mencintai
Muhammad.”

Zaid lalu dibunuh oleh Nastas. Maka ia pun gugur sebagai
syahid yang memegang teguh agama dan amanat Nabi.

Adapun Khubaib waktu itu dalam penjara, yang kemudian dibawa
keluar untuk disalib. Tapi ia berkata kepada mereka:

“Dapatkah kamu membiarkan aku sekadar melakukan salat dua
raka’at?”

Permintaan demikian itu dikabulkan. Iapun sembahyang dua
raka’at dengan baik dan sempurna. Kemudian ia menghadap mereka
lagi:

“Kalau tidak karena kamu akan menyangka saya sengaja
memperlambat karena takut dibunuh, niscaya saya masih akan
sembahyang lebih banyak lagi.”

Setelah ia dinaikkan dan diikat di atas tonggak kayu,
dipandangnya mereka itu dengan mata sayu seraya katanya:

“Ya Allah, hitungkan bilangan mereka itu, binasakan mereka
dalam keadaan cerai-berai dan jangan dibiarkan seorangpun dari
mereka itu.”

Mendengar suara yang keras itu mereka gemetar, mereka
merebahkan diri takut terkena kutukannya. Sesudah itu ia pun
dibunuh. Seperti Zaid yang telah gugur sebagai syahid, Khubaib
juga kemudian gugur pula sebagai syahid untuk agama dan untuk
Nabi. Dua ruh yang suci itu pun kini melayang pula. Padahal,
sebenarnya mereka akan dapat menyelamatkan diri dari
pembunuhan itu kalau saja mereka mau jadi murtad meninggalkan
agamanya. Tetapi demi keyakinan mereka kepada Tuhan, kepada
keluhuran rohani dan hari kemudian – tatkala setiap jiwa hanya
akan mendapat balasan sesuai dengan perbuatannya dan tak ada
orang yang akan memikul beban orang lain – mereka melihat maut
itu – sebagai tujuan hidup – adalah tujuan yang paling baik
dalam hidupnya demi akidah, demi iman dan demi kebenaran.
Mereka pun yakin bahwa darah mereka, yang kini ditumpahkan di
atas bumi Mekah, akan memanggil saudara-saudaranya kaum
Muslimin supaya memasuki kota itu sebagai pihak yang menang,
yang akan menghancurkan berhala-berhala, akan membersihkan
segala noda paganisma dan kehidupan syirik. Dan kesucian
Ka’bah sebagai Baitullah akan dikembalikan juga sebagaimana
mestinya, bersih dari segala sebutan nama-nama selain asma
Allah.

Dalam menghadapi peristiwa ini pihak Orientalis tidak bicara
apa-apa seperti ketika menghadapi peristiwa tawanan Badr yang
dibunuh pihak Muslimin. Mereka tidak berusaha untuk memandang
jijik perbuatan khianat yang diiakukan Banu Hudhail terhadap
dua orang yang tidak berdosa itu, yang bukan ditawan dari
medan perang, tapi diambil dengan cara tipu-muslihat, yang
berangkat karena perintah Rasul dengan maksud supaya
mengajarkan agama kepada orang-orang yang mengkhianati mereka
itu, orang-orang yang menyerahkan mereka kepada Quraisy,
setelah kawan-kawannya yang lain pun dibunuh secara gelap dan
licik. Kaum Orientalis tidak menganggap jijik perbuatan
Quraisy terhadap dua orang yang tak bersenjata itu, padahal
apa yang mereka lakukan adalah suatu perbuatan pengecut dan
tindakan permusuhan yang rendah sekali. Pada dasarnya prinsip
kejujuran yang harus menjadi pegangan kaum Orientalis, yang
merasa tidak dapat menerima apa yang dilakukan kaum Muslimin
terhadap dua tawanan perang Badr itu, ialah akan merasa jijik
sekali terhadap pengkhianatan Quraisy yang menerima penyerahan
dua orang untuk dibunuh itu, sesudah empat orang lainnya yang
didatangkan atas permintaan mereka untuk mengajarkan agama,
telah lebih dulu pula mereka bunuh.

Semua Muslimin merasa sedih, Muhammad juga merasa sedih sekali
atas malapetaka yang telah menimpa keenam orang yang gugur
sebagai syahid di jalan Tuhan karena pengkhianatan Hudhail
itu. Ketika itulah Hassan b. Thabit mengirimkan sajak-sajaknya
sebagai elegi yang mendalam sekali buat Khubaib dan Zaid.

Dalam pada itu lebih banyak lagi Muhammad memikirkan keadaan
umat Muslimin. Kuatir sekali ia kalau hal semacam itu terulang
lagi. Masyarakat Arab akan sangat merendahkan mereka.

Sementara ia sedang berpikir-pikir demikian itu tiba-tiba
datang Abu Bara’ ‘Amir b. Malik. Muhammad menawarkan kepadanya
supaya ia sudi masuk Islam, tapi ia menolak. Sungguhpun begitu
juga ia tidak menunjukkan sikap permusuhannya terhadap Islam.
Bahkan katanya: “Muhammad, kalau ada sahabat-sahabatmu yang
dapat diutus ke Najd dan mengajak mereka itu menerima ajaranmu
saya harap mereka itu akan menerima.”

Tetapi Muhammad masih kuatir akan melepaskan
sahabat-sahabatnya itu ke Najd dan takut ia penduduk daerah
itu nanti akan mengkhianati mereka seperti pernah dilakukan
Hudhail terhadap Khubaib dan kawan-kawan. Ia tidak yakin dan
tidak dapat mengabulkan permintaan Abu Bara’.

“Saya menjamin mereka,” katanya lagi. “Kirimkanlah utusan
kesana untuk mengajak mereka menerima ajaranmu.”

Abu Bara’ adalah orang yang ditaati di kalangan masyarakatnya
dan didengar orang perkataannya. Barangsiapa yang sudah
diberinya perlindungan ia tidak kuatir akan mendapat serangan
pihak lain.

Dengan demikian Muhammad mengutus al-Mundhir b. ‘Amr dari Banu
Sa’ida dengan memimpin 40 orang Muslimin pilihan. Mereka pun
berangkat. Sampai di Bi’ir Masuna – antara daerah Banu ‘Amir
dan Banu Sulaim – mereka berhenti. Dari sana mereka mengutus
Haram b. Milhan membawa surat Muhammad kepada ‘Amir
bin’t-Tufail. Tetapi oleh ‘Amir surat itu tidak dibacanya,
malah orang yang membawanya dibunuh, dan dia minta bantuan
Banu ‘Amir supaya membunuhi kaum Muslimin. Tetapi setelah
mereka menolak untuk melakukan pelanggaran atas
pertanggung-jawaban dan perlindungan yang telah diberikan oleh
Abu Bara’ ‘Amir meminta bantuan kabilah-kabilah lain.
Permintaan ini oleh mereka dipenuhi dan kemudian bersama-sama
dia mereka berangkat dan mengepung rombongan Muslimin di
tempat itu. Melihat keadaan ini pihak Muslimin pun segera
mencabut pedang. Mereka mengadakan perlawanan mati-matian
sampai akhirnya mereka terbunuh semua.

Hanya Ka’b b. Zaid yang masih selamat, yang dibiarkan begitu
saja oleh Ibn’t-Tufail. Ternyata ia belum mati. Kemudian ia
pun pergi pulang ke Madinah. Demikian juga ‘Amr b. Umayya,
yang oleh ‘Amir bin’t-Tufail dimerdekakan karena dikiranya ia
masih terikat dengan suatu niat ibunya. Dalam perjalanan
pulang di tengah jalan ‘Amr bertemu dengan dua orang yang
dikiranya turut menyerang kawan-kawannya. Dibiarkannya kedua
orang itu sampai tidur lebih dulu, kemudian diserangnya dan
dibunuhnya. Sesudah itu ia melanjutkan lagi perjalanannya.
Sesampainya di Medinah diberitahukannya perbuatannya itu
kepada Rasul a.s. Ternyata kedua orang itu dari Banu ‘Amir,
dari golongan Abu Bara’ dan yang juga terikat oleh suatu
perjanjian Jiwar (bertetangga baik) dengan Rasulullah, dan ini
berarti harus diselesaikan dengan diat.

Bukan main Muhammad menahan perasaan pilu karena pembunuhan di
Bi’ir Ma’una itu. Sungguh berat hatinya menahan dukacita atas
sahabat-sahabatnya itu. Ia berkata: “Ini adalah perbuatan Abu
Bara’. Sejak semula saya sudah berat hati dan kuatir sekali.”

Abu Bara’ juga merasa sangat terpukul karena pelanggaran ‘Amir
bin’t-Tufail atas dirinya itu. Karena itu, Rabi’a anaknya lalu
bertindak menghantam ‘Amir dengan tombak sebagai balasan atas
perbuatannya terhadap ayahnya. Begitu dalamnya rasa dukacita
Muhammad sehingga sebulan penuh setiap selesai salat Subuh ia
berdoa semoga Tuhan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang
telah membunuh sahabat-sahabatnya itu. Demikian juga seluruh
umat Muslimin turut merasa pilu karena malapetaka yang telah
menimpa saudara-saudaranya seagama itu, meskipun sudah dengan
penuh iman bahwa mereka semua gugur sebagai syuhada, dan
mereka semua akan mendapat surga.

Malapetaka yang telah menimpa kaum Muslimin di Raji’ dan di
Bi’ir Ma’una mengingatkan kaum munafik dan Yahudi Medinah akan
kemenangan Quraisy di Uhud, dan membuat mereka lupa akan
kemenangan Muslimin atas Banu Asad, juga mengurangi pandangan
mereka terhadap kewibawaan Muhammad dan sahabat-sahabatnya.
Dalam menghadapi hal ini sekarang Nabi a.s. berpikir dengan
suatu pemikiran politik yang cermat sekali serta pandangan
yang jauh. Ketika itu bahaya yang paling besar mengancam kaum
Muslimin ialah sikap penduduk Medinah yang kiranya akan
merendahkan kewibawaan mereka. Begitu juga yang sangat
diharapkan oleh kabilah-kabilah Arab, mereka akan dapat
menanamkan perpecahan didalam, yang berarti akan dapat
menimbulkan perang saudara jika nanti ada saja tetangga yang
menyerbu Medinah. Disamping itu pihak Yahudi dan orang-orang
munafik seolah-olah memang sedang menantikan bencana yang akan
menimpa itu. Karena itu dilihatnya tak ada jalan lain yang
lebih baik daripada membiarkan mereka, supaya nanti niat
mereka terbongkar.

Oleh karena Yahudi Banu Nadzir itu sekutu Banu ‘Amir, maka
Nabi berangkat sendiri ke tempat mereka – yang tidak jauh
dari Quba'[ – dengan membawa sepuluh orang Muslimin
terkemuka, diantaranya Abu Bakr, Umar dan Ali. Ia minta
bantuan Banu Nadzir dalam membayar diat dua orang yang telah
dibunuh tidak sengaja oleh ‘Amr b. Umayya itu dan tidak
diketahuinya pula bahwa Nabi telah memberikan perlindungan
kepada mereka.

Kategori:religi

perang badr part 4

Agustus 24, 2010 Tinggalkan komentar

Contohnya lagi di kalangan para nabi seperti Isa tatkala ia
berkata:

“Kalaupun mereka Engkau siksa, mereka itu semua hambaMu; dan
kalau Engkau ampuni, Engkau Maha Kuasa dan Bijaksana.”
(Qur’an, 5: 118)

Sedang Umar, dalam malaikat contohnya seperti Jibril,
diturunkan membawa kemurkaan dari Tuhan dan bencana terhadap
musuh-musuhNya. Di lingkungan para nabi ia seperti Nuh tatkala
berkata:

“Tuhan, jangan biarkan orang-orang yang ingkar itu punya
tempat-tinggal di muka bumi ini.” (Qur’an, 71: 26)

Atau seperti Musa bila ia berkata:

“O Tuhan! Binasakanlah harta-benda mereka itu, dan tutuplah
hati mereka. Mereka takkan percaya sebelum siksa yang pedih
mereka rasakan.” (Qur’an, 10: 88)

Kemudian katanya:

“Kamu semua mempunyai tanggungan. Jangan ada yang lolos mereka
itu, harus dengan ditebus atau dipenggal lehernya.”

Lalu mereka berunding lagi dengan sesamanya. Di antara mereka
itu ada seorang penyair, yaitu Abu ‘Azza ‘Amr b. Abdullah b.
‘Umair al-Jumahi. Melihat adanya pertentangan pendapat itu
cepat-cepat ia mau menyelamatkan diri.

“Muhammad,” katanya, “Saya punya lima anak perempuan dan
mereka tidak punya apa-apa. Maka sedekahkan sajalah aku ini
kepada mereka. Aku berjanji dan memberikan jaminan, bahwa aku
tidak akan memerangi kau lagi, juga sama sekali aku tidak akan
memaki-maki kau lagi.”

Orang ini mendapat jaminan Nabi dan dibebaskan tanpa membayar
uang tebusan. Hanya dialah satu-satunya tawanan yang berhasil
mendapat jaminan demikian. Tetapi kemudian ia memungkiri
janjinya, dan kembali ia setahun kemudian ikut berperang di
Uhud. Ia kena tawan lagi lalu terbunuh.

Pihak Muslimin, sesudah lama berunding akhirnya memutuskan,
bahwa mereka dapat mengabulkan cara penebusan itu. Dengan
dikabulkannya itu ayat ini turun.

“Tidak sepatutnya seorang nabi itu akan mempunyai
tawanan-tawanan perang, sebelum ia selesai berjuang di dunia.
Kamu menghendaki harta-benda dunia, sedang Allah menghendaki
akhirat. Allah Maha Kuasa dan Bijaksana.” (Qur’an, 8: 67)

Menanggapi masalah tawanan-tawanan Badr ini serta terbunuhnya
Nadzr dan ‘Uqba ada beberapa orang Orientalis yang masih
bertanya-tanya: bukankah dengan demikian ini sudah membuktikan
bahwa agama baru ini sangat haus darah? Kalau tidak tentu
kedua orang itu tidak akan dibunuh. Bukankah sesudah mendapat
kemenangan dalam pertempuran akan lebih terhormat bagi kaum
Muslimin jika mengembalikan saja para tawanan itu, dan mereka
sudah cukup memperoleh rampasan perang?

Maksudnya dengan pertanyaan ini ialah hendak membangkitkan
rasa simpati dalam hati orang yang selama itu belum menjadi
masalah, supaya seribu tahun kemudian sesudah perang Badr dan
peperangan-peperangan yang terjadi berikutnya akan dijadikan
alat untuk mendiskreditkan agama ini serta pembawany a

Tetapi ternyata pertanyaan semacam ini kemudian jadi gugur
sendiri apabila terbunuhnya Nadzr dan ‘Uqba ini kita
bandingkan dengan apa yang terjadi dewasa ini dan akan selalu
terjadi, selama perabadan Barat, yang memakai jubah Kristen
itu masih tetap menguasai dunia. Terhadap apa yang telah
terjadi di negara-negara yang dikuasai oleh penjajah secara
paksa atas nama hendak memadamkan pemberontakan itu, dapatkah
peristiwa di atas tadi – sedikit saja – dijadikan
perbandingan? Dapatkah hal itu – sedikit saja – kita
bandingkan dengan penyembelihan yang terjadi dalam Perang
Dunia? Selanjutnya, dapatkah peristiwa itu kita bandingkan
pula – sedikit saja – dengan apa yang telah terjadi selama
Revolusi Perancis, dalam pelbagai revolusi yang pernah terjadi
dan akan selalu terjadi pada bangsa-bangsa Eropa lainnya?

Memang sudah tak dapat disangkal bahwa apa yang dialami
Muhammad dan sahabat-sahabatnya itu adalah suatu revolusi yang
dahsyat dan Muhammad yang diutus Tuhan, berhadapan dengan
paganisma dan orang-orang musyrik sebagai penyembahnya. Suatu
revolusi, yang pada mulanya berkecamuk di Mekah, dan yang oleh
karenanya, berbagai macam siksaan dan penderitaan dialami oleh
Muhammad dan sahabat-sahabatnya selama tigabelas tahun
terus-menerus. Kemudian kaum Muslimin pindah ke Medinah. Di
tempat ini mereka nengumpulkan tenaga dan kekuatan. Sementara
itu benih-benih revolusi masih terus tumbuh dalam hati mereka,
juga dalam hati semua orang Quraisy.

Pindahnya Muslimin ke Medinah, perjanjian mereka dengan
orang-orang Yahudi setempat, terjadinya benterokan-benterokan
sebelum peristiwa Badr, lalu Perang Badr itu sendiri – semua
itu adalah suatu siasat revolusi, bukan prinsip. Kebijaksanaan
yang telah ditentukan oleh pemimpin revolusi dan
sahabat-sahabatnya itu akan disusul pula oleh adanya ketentuan
prinsip-prinsip yang luhur, yang telah dibawa oleh Rasul.
Jadi, siasat revolusi itu lain dan prinsip-prinsip revolusi
lain lagi. Juga kondisi yang terjadi berikutnya kadang sama
sekali berbeda dari tujuan pokok kondisi itu. Dalam hal Islam
telah menjadikan rasa persaudaraan sebagai dasar peradaban
Islam, maka untuk mencapai sukses jalan itu harus ditempuh,
sekalipun untuk itu harus berlaku suatu kekerasan kalau memang
sudah tak dapat dihindarkan lagi.

Tindakan kaum Muslimin terhadap tawanan-tawanan perang Badr
adalah suatu teladan yang baik dan penuh kasih-sayang,
dibandingkan dengan apa yang terjadi dalam beberapa revolusi
yang oleh pencetusnya diagungkan dengan arti keadilan dan
kasih-sayang. Dan inipun merupakan satu bagian saja di samping
penyembelihan-penyembelihan yang banyak terjadi atas nama
Kristus, seperti penyembelihan Saint Bartholomew (Saint
Barthelemy), suatu peristiwa penyembelihan yang dapat dianggap
sebagai suatu aib besar dalam sejarah Kristen, yang dalam
sejarah Islam contoh semacam itu samasekali tidak pernah ada.
Penyembelihan ini diatur pada waktu malam. Orang-orang Katolik
di Paris membantai orang-orang Protestan dengan jalan
tipu-muslihat dan penghkianatan, suatu gambaran tipu-muslihat
dan penghianatan yang sungguh rendah dan kotor.

Jadi kalau dua orang saja dari lima puluh tawanan Badr itu
yang dibunuh oleh Muslimin, karena mereka selama tiga belas
tahun memang begitu kejam terhadap kaum Muslimin, yang sampai
menderita pelbagai macam siksaan selama di Mekah, itupun
karena adanya sikap kasihan yang berlebih-lebihan dan dianggap
sebagai suatu keuntungan yang terlalu pagi seperti disebutkan
dalam ayat:

“Tidak sepatutnya seorang nabi itu akan mempunyai
tawanan-tawanan perang, sebelum ia selesai berjuang di dunia.
Kamu menghendaki kekayaan duniawi, sedang Allah menghendaki
akhirat. Allah Maha Kuasa dan Bijaksana.” (Qur’an, 8: 67)

Sementara orang-orang Islam sedang bersukaria karena dengan
anugerah Tuhan mereka mendapat kemenangan berikut harta
rampasan, Haisuman b. Abdullah al-Khuza’i secara tergesa-gesa
sekali berangkat pula menuju Mekah. Dia menjadi orang yamg
pertama masuk di Mekah dan memberitahukan penduduk mengenai
hancurnya pasukan Quraisy serta bencana yang telah menimpa
pembesar-pembesar, pemimpin-pemimpin dan bangsawan-bangsawan
mereka. Pada mulanya Mekah terkejut sekali, dan tidak
mempercayai berita itu. Betapa takkan terkejut mendengar
berita kehancuran itu serta terbunuhnya pemimpin-pemimpin dan
bangsawan-bangsawan mereka! Tetapi tampaknya Haisuman memang
tidak mengigau, diyakinkannya sekali apa yang dikatakannya.
Dari pihak Quraisy dia sendiri memang yang merasa paling
terpukul dengan bencana itu.

Setelah ternyata berita kejadian tersebut memang benar,
seolah-olah mereka tersungkur jatuh pingsan. Abu Lahab jatuh
demam, dan tujuh hari kemudian iapun meninggal. Sekarang
orang-orang mengadakan perundingan, apa yang harus mereka
lakukan. Kemudian dicapai kata sepakat untuk tidak menyatakan
duka-cita atas kematian mereka, sebab apabila nanti ini
terdengar oleh Muhammad dan sahabat-sahabatnya, mereka akan
diejek. Juga tidak akan mengrim orang untuk menebus para
tawanan itu, supaya jangan sampai Muhammad dan
sahabat-sahabatnya nanti memperketat mereka dan meminta
tebusan yang terlampau tinggi.

Haripun berjalan juga. Orang-orang Quraisy sedang menahan hati
mengalami cobaan itu sambil menunggu kesempatan sampai dapat
tawanan-tawanan mereka itu nanti tertebus.

Hari itu yang datang adalah Mikraz b. Hafz, hendak menebus
Suhail b. ‘Amr. Rupanya Umar bin’l-Khattab keberatan kalau
orang itu bebas tanpa mendapat sesuatu gangguan. Maka lalu ia
berkata:

“Rasulullah. Ijinkan saya mencabut dua gigi seri Suhail b.
‘Amr ini, supaya lidahnya menjulur keluar dan tidak lagi
berpidato mencercamu di mana-mana.”

Tapi ini dijawab oleh Nabi dengan suatu jawaban yang sungguh
agung:

“Aku tidak akan memperlakukannya secara kasar, supaya Tuhan
tidak memperlakukan aku demikian, sekalipun aku seorang nabi.”

Zainab puteri Nabi juga lalu mengirimkan tebusan hendak
membebaskan suaminya, Abu’l-‘Ash b. Rabi’. Diantara yang
dipakai penebus itu ialah sebentuk kalung pemberian Khadijah
ketika dulu ia akan dikawinkan dengan Abu’l-‘Ash.

Melihat kalung itu, Nabi merasa sangat terharu sekali

“Kalau tuan-tuan hendak melepaskan seorang tawanan dan
mengembalikan barang tebusannya kepada sipemilik, silakan
saja,” kata Nabi.

Kemudian ia mendapat kata sepakat dengan Abu’l-‘Ash untuk
menceraikan Zainab, yang menurut hukum Islam mereka sudah
bercerai. Dalam pada itu Muhammad mengutus Zaid b. Haritha dan
seorang sahabat lagi guna menjemput Zainab dan membawanya ke
Medinah.

Akan tetapi sesudah sekian lama Abu’l-‘Ash dibebaskan sebagai
tawanan, ia berangkat ke Syam membawa barang dagangan Quraisy.
Sesampainya di dekat Medinah, ia bertemu dengan satuan
Muslimin. Barang-barang bawaannya mereka ambil. Ia meneruskan
perjalanan dalam gelap malam itu hingga ke tempat Zainab. Ia
minta perlindungan dari Zainab dan Zainabpun melindunginya
pula. Ketika itu barang-barang dagangannya dikembalikan oleh
Muslimin kepadanya dan dengan aman ia kembali ke Mekah.
Setelah barang-barang tersebut dikembalikan kepada pemiliknya
masing-masing dari kalangan Quraisy, ia berkata:

“Masyarakat Quraisy! masih adakah dari kamu yang belum
mengambil barangnya?”

“Tidak ada,” jawab mereka. “Mudah-mudahan Tuhan membalas
kebaikanmu. Engkau ternyata orang yang jujur dan murah hati.”

“Saya naik saksi,” katanya lagi kemudian, “bahwa tak ada tuhan
selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya.
Sebenarnya saya dapat saja masuk Islam di kotanya itu, tapi
saya kuatir tuan-tuan akan menduga, bahwa saya hanya ingin
makan harta tuan-tuan ini. Setelah semua ini saya kembalikan
kepada tuan-tuan dan tugas saya selesai, maka sekarang saya
masuk Islam.”

Kemudian ia kembali ke Medinah. Zainab juga oleh Nabi
dikembalikan lagi kepadanya.

Dalam pada itu pihak Quraisy terus saja menebus tawanannya.
Nilai tebusan waktu itu berkisar antara seribu sampai empat
ribu dirham untuk tiap orang. Kecuali yang tidak punya apa-apa
dengan kemurahan hati Muhammad membebaskannya.

Rasanya tidak ringan nasib yang menimpa Quraisy itu, juga
mereka tidak mau menghentikan permusuhan dengan Muhammad atau
melupakan kekalahan yang mereka alami. Bahkan sesudah itu
kemudian wanita-wanita Quraisy itu ramai-ramai selama sebulan
penuh menangisi mayat mereka. Rambut kepala mereka sendiri
mereka gunting. Kendaraan atau kuda orang yang sudah mati itu
dibawa, lalu mereka menangis mengelilinginya.

Dalam hal ini tak ada yang ketinggalan, kecuali Hindun bt.
‘Utba, isteri Abu Sufyan. Ketika pada suatu hari ia didatangi
oleh wanita-wanita dengan mengatakan: “Kau tidak menangisi
ayahmu, saudaramu, pamanmu dan keluargamu?”

Ia menjawab:

“Aku menangisi mereka? Supaya kalau nanti didengar oleh
Muhammad dan teman-temannya mereka menyoraki kita? Dan
wanita-wanita Khazraj juga akan menyoraki kita? Tidak! Aku
mesti menuntut balas kepada Muhammad dan teman-temannya! Haram
kita memakai minyak sebelum dapat kita memerangi Muhammad.
Sungguh, kalau aku dapat mengetahui, bahwa kesedihan itu bisa
hilang dari hatiku, tentu aku menangis. Tetapi ini baru akan
hilang kalau mangsaku yang membunuh orang-orang yang kucintai
itu sudah kulihat dengan mata kepalaku sendiri!”

Memang, ia tidak lagi memakai minyak atau mendekati
tempat-tidur Abu Sufyan. Ia terus mengerahkan orang sampai
pada waktu pecah perang Uhud. Sedang Abu Sufyan, sesudah
peristiwa Badr, ia bernazar tidak akan bersuci kepala dengan
air sebelum ia memerangi Muhammad.

Kategori:religi
%d blogger menyukai ini: